Selasa, 02 Maret 2021

Dugaan Korupsi Otsus di Papua, Tokoh Minta Pengungkapan Data dan Fakta

 


Nama seorang Gubernur Papua Lukas Enembe mencuat dipublik atas berbagai tuduhan kasus korupsi dana otsus senilai Rp 126 Trilyun. Menanggapi hal tersebut Wakil Ketua I DPR Papua, Yunus Wonda mengatakan dengan tegas bahwa agar permasalahan tersebut dapat segera diselesaikan.

“Kalau saja kasus itu memang benar terjadi, silakan kepada aparat penegak hukum untuk melakukan penyelidikan dan melakukan upaya sesuai supremasi hukum,” ungkap Wonda.

Yunus Wonda juga mengatakan jika setiap pelanggaran harus ditindak dan pelakunya harus bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya. Terlebih sebagai pimpinan DPR Papua dirinya menegaskan kepada seluruh aparatur pemerintah serta pejabat di Papua untuk tidak bermain-main dengan anggaran. Yunus mendorong agar setiap Kepala Daerah dapat mempertanggung jawabkan penggunaan anggaran secara jelas.

“Tentu rakyat harus tahu siapa oknum-oknum yang melakukan ini. Sebagai DPR Papua saya tegaskan kepada setiap pejabat untuk bisa mempertanggung jawabkan setiap penggunaan dana secara jelas. Kalau sudah seperti itu, bapak-bapak Kepala Daerah tidak perlu khawatir,”

Salah seorang Tokoh dan pengamat Papua, Franz Korwa dalam kesempatannya menanggapi pengungkapan fakta terkait dugaan kasus korupsi yang dilakukan oleh Lukas Enembe sebagai Gubernur Papua, bahwa perkara tersebut murni pada penyelidikan dugaan pelanggaran. Dia tidak sepakat jika ada pihak-pihak yang menganggap bahwa ada upaya kriminalisasi untuk menyerang personal terlebih rasial.

“Setiap orang yang melanggar hukum akan berhadapan dengan hukum itu sendiri. Di Indonesia tidak ada seorang pun yang bisa lepas dari hukum, termasuk seorang Gubernur. Jadi tidak tepat jika itu dianggap sebagai upaya menyerang personal Lukas Enembe,”

Meski demikian, Korwa tetap mendukung tindakan aparat dalam melakukan pengusutan dugaan korupsi. Menurutnya hal tersebut memiliki pengaruh serta kecocokan dengan stigma yang terbangun dimasyarakat terkait selalu tersendatnya upaya pembangunan.

“Setiap upaya pembangunan, baik berwujud infrastuktur ataupun pengembangan sumber daya manusia, selalu dianggap gagal dan terhambat. Mungkin ada banyak faktor yang mempengaruhi, tapi tidak menutup kemungkinan juga karena ada korupsi sehingga setiap perencanaan tidak bisa dimaksimalkan,”

Korwa juga menambahkan bahwa tidak perlu ada pihak yang merasa menjadi korban dalam kasus tersebut. Sebab dirinya menegaskan bahwa negara memiliki lembaga serta instansi sebagai alat yang bekerja sesuai dengan hukum yang berlaku.

Dalam kesempatan tersebut Korwa juga mengatakan jika saja korupsi tersebut benar terjadi, maka ada upaya terorganisir yang mencoba dilakukan oleh kelompok tertentu untuk melawan negara. Begitu pun pandangannya menilai kalau memang tidak ada korupsi yang terjadi maka tidak perlu ada upaya mengelak dan melakukan penentangan.

“Tidak perlu merasa dirinya sebagai korban. Kalau memang benar ada korupsi maka perlu digaris bawahi jika kasus tersebut sudah mengakar kuat disana. Tentu juga kalau memang tidak ada korupsi, seharusnya tidak perlu ada bantahan. Jalani saja mekanismenya, negara juga punya tata cara rehabilitasi terkait nama baik jika diperlukan nantinya,”

Sebagai seorang pejabat pemerintahan, menurut Korwa, sudah menjadi sebuah keharusan agar memahami proses hukum di Negara Indonesia. Hal tersebut harus menjadi kebijaksanaan dalam diri seorang tokoh publik.

“Sebagai pejabat seharusnya paham, namun yang terjadi saat ini justru sebaliknya, kelompok tertentu mencoba menentang dan mereka masif menciptakan opini perlawanan. Ini sangat tidak baik tentunya,”

Terkait permasalahan yang terjadi, Korwa dalam keterangannya mendesak kepada setiap pihak yang untuk dapat menunjukkan fakta dan data sesuai prosedur hukum di Negara Indonesia.

“Tunjukkan saja pertanggung jawabannya, kecuali yang bersangkutan saat ini merasa risau karena sedang mencari siasat untuk menghindar dari jerat hukum. Yang terpenting adalah bagaimana hukum itu ditegakkan, semua ini untuk Papua yang lebih baik,” tandasnya.

0 komentar:

Posting Komentar