Sabtu, 13 Maret 2021

Jembatan Youtefa Bukan Fasilitas yang Dibangun untuk Mabuk dan Miras

 



Salah satu dosen di Politeknik Kesehatan Jayapura Frits Ramandey dibuat tak percaya saat melakukan kegiatan ‘bersih-bersih sampah’ bersama dengan mahasiswanya di areal sekitaran Jembatan Youtefa, Kota Jayapura. (12/3)

Dalam kegiatan Gerebek Sampah yang melibatkan sekitar 30 mahasiswa Poltekkes Jayapura serta pegiat lingkungan itu, Frits menemukan setidaknya 400 botol bekas minuman keras dari berbagai merk dan jenis.

“Gerakan ini mulanya berawal dari rasa keprihatinan saya setelah melihat foto-foto yang beredar di media sosial tentang aktivitas mabuk-mabukan di sekitaran Jembatan Merah, kemudian saya ingin mencoba melihat kondisinya dan yang ditemui memang botol miras berserakan,” ujar Fritz dalam sambungan telfon.

Atas keprihatinan tersebut, Fritz yang juga merupakan Kepala Kantor Perwakilan Komnas HAM Papua tersebut juga bermaksud memberikan pengetahuan diluar konteks pelajaran di kampus. Menurutnya para mahasiswa juga tidak melulu belajar secara mutlak dari bangku kuliah, namun juga bisa bercermin pada kondisi nyata dikehidupan sehari-hari.

“Kegiatan seperti ini juga menyangkut muatan pendidikan, saya ingin mahasiswa jurusan gizi Poltekkes ini bisa melihat secara nyata bagaimana kondisi yang terjadi di masyarakat. Meskipun yang kita hadapi sekarang ini sangat jorok,”

Fritz mengaku miris melihat kondisi  tersebut, padahal dirinya baru mengunjungi dua areal tempat, mengingat sebelumnya beredar kabar bahwa tiga mahasiswa asal Papua yang mengenyam pendidikan di Kota Salatiga, Jawa Tengah, telah mati sia-sia lantaran menegak miras oplosan.

“Sangat miris melihat kondisi seperti ini, botol-botol itu baru kami temukan di dua areal tempat, masih ada banyak tempat lagi yang pasti ada banyak botol lainnya,”

Terhitung sejak Oktober 2019 diresmikan, Jembatan Youtefa memang menjadi ikon bangunan dari cerminan Papua. Jembatan fenomenal di Papua tersebut telah berhasil mempercepat pembangunan di kawasan Kota Jayapura. Tidak hanya itu, pemilik sektor pariwisata di sekitar Jembatan Merah juga terpacu untuk bergerak.

Meski memberikan banyak dampak yang membangun kesejahteraan rakyat, anomali perayaan/acara di Papua yang lekat dengan miras menjadi pukulan tersendiri. Hal tersebut disampaikan Fritz yang menggambarkan bahwa Jembatan Youtefa salah satu tempat yang kerap digunakan untuk hal-hal yang negatif.

“Ada tulisan dilarang miras di lokasi bawah jembatan, tetapi tidak pernah diindahkan, botol miras di mana-mana dan memberi dampak negatif bagi generasi penerus nantinya,”

 

0 komentar:

Posting Komentar