Selasa, 09 Maret 2021

Kasus di Malang Bukan Mahasiswa, Mereka Simpatisan Gerakan Papua Merdeka

 



Pernyataan Kapolresta Malang Kombes Leo Simarmata dalam menghalau aksi yang dilakukan oleh mahasiswa Papua menuai banyak kontroversi. Pasalnya disebutkan bahwa Kapolresta mengatakan jika darah mahasiswa Papua yang memaksa masuk ke Markas Polres menjadi halal untuk ditembak.

Dalam penelusuran redaksi, pernyataan tersebut dibantah oleh Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Gatot Repli Handoko. Pihaknya mengatakan bahwa video yang tersebar adalah hasil suntingan yang tidak menggambarkan situasi utuh.

“Kami tegaskan bahwa video tersebut sengaja dipotong-potong, sehingga konteks aslinya tidak utuh. Situasinya tidak mungkin tiba-tiba ada instruksi untuk ‘tembak’. Kami lihat di Malang sudah ada tindakan mengancam (keamanan), maka upaya tegas perlu dilakukan sebagai antisipasi,”

Menurut keterangan Kapolresta, sebelumnya ada tindakan dari mahasiswa Papua yang memaksa untuk menduduki Polres lantaran solidaritas kepada rekan mahasiswa lain yang sedang ditahan, namun aksi tersebut ditolak karena menyalahi aturan hukum. Meski sudah dilakukan negosiasi, upaya tersebut tidak dihiraukan. Dikatakan bahwa mahasiswa tetap bersikukuh untuk memaksa masuk bahkan mendirikan tenda di halaman Polres.

Menjadi rahasia umum bahwa eksistensi mahasiswa Papua dibeberapa wilayah di Indonesia terus menerus menjadi sorotan publik. Dalam beberapa aksi yang dilakukan selalu terjadi upaya provokasi yang dilakukan oleh oknum mahasiswa dengan tindakan yang dimaksudkan untuk melawan negara.

Menurut pakar Hukum dan Keamanan Azis Syamsuddin, dirinya mengatakan ada kecenderungan yang sama antara oknum dari kelompok mahasiswa Papua dengan arah gerakan prokemerdekaan Papua. Dalam pernyataan tersebut dikatakan jika kelompok kecil dari mahasiswa tersebut memiliki pemikiran yang terafiliasi pada gerakan separatisme.

“Ada beberapa komponen dari mahasiswa Papua tersebar diberbagai kota studi di Indonesia, mereka ini juga memiliki pemikiran tentang gerakan kemerdekaan Papua. Tentu ini sudah menyalahi, apalagi dalam setiap tindakannya yang selalu berupaya untuk mencoba mengganggu kedaulatan negara,”

Aziz menuturkan bahwa oknum mahasiswa Papua yang memiliki kecenderungan melawan negara memiliki kedekatan emosional secara langsung dengan kelompok kriminal politik (KKP). Dicontohkannya kelompok tersebut adalah Komite Nasional Papua Barat (KNPB) ataupun United Libertion Movement for West Papua (ULMWP).

“Jadi ada beberapa mahasiswa itu yang juga memiliki hubungan dengan organiasi politik pendukung kemerdekaan Papua, seperti KNPB ataupun ULMWP. Memang mereka tidak menenteng senjata seperti OPM, namun aksi yang dilakukan tetap mengancam karena pemikiran yang salah,”

Terkait Permasalahan yang menyeret nama Mahasiswa Papua di Malang, kejadian di Mapolres sebelumnya diketahui bukan kali pertama terjadi. Pada akhir tahun 2019 diketahui bahwa mahasiswa Papua sempat bersitegang dan membuat kekacauan, bukan hanya kepada aparat namun juga penduduk asli Kota Malang.

Dalam berbagai sumber rujukan, atas kejadian tersebut sejumlah fasilitas umum dan perkantoran dirusak paksa. Oknum mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) tersebut menjadi pelaku kerusuhan, bahkan korban dari warga (penduduk) juga terjadi atas lemparan batu yang dilakukan.

0 komentar:

Posting Komentar