Sabtu, 10 April 2021

Komnas HAM Papua: Media Separatis Sebarkan Kebohongan atas Penembakan Guru


Dugaan sebuah media lokal Papua yang dikembangkan oleh salah seorang wartawan senior bernama Victor Mambor menjadi sorotan publik atas publikasi berita terkait penembakan oleh kelompok teroris Papua terhadap dua orang guru yang tidak lain merupakan warga sipil.

Komnas HAM Papua, melalui Fritz Ramandey bahwa tudingan yang dilakukan oleh Jubi.com sangat tidak mendasar dan cenderung mengada-ada. Hal tersebut didasari pada fakta guru di pedalaman tidak memiliki kepentingan kecuali pengabdian untuk membangun insan terdidik.

“guru yang ada di pedalaman Papua itu hanya bisa mengajar-mengajar-dan mengajar. Sebab tidak ada lagi kepentingan lain. Mereka adalah pekerja kemanusiaan yang tulus sehingga jangan dituding dengan kabar yang negatif, itu fitnah,”

Ftriz mengungkapkan rasa kesalnya atas beredarnya kabar oleh Jubi sebelumnya, menurutnya sudut pandang yang dilakukan oleh media tersebut sangat meresahkan dan berpotensi menjaga api konflik di Papua.

“sangat keji jika ada tudingan kalau guru membawa pistol, ini sudah tidak masuk akal. Guru itu membawa pensil dan alat tulis untuk mengajar anak-anak di pedalaman. Tudingan seperti ini sangat bahaya,”

Fritz menambahkan jika tudingan dan klaim sepihak yang dilakukan oleh kelompok separatis di Papua seperti kasus penembakan terhadap Oktovianus Rayo dan Yonatan Rende sebelumnya, akan membuat ketakutan guru-guru di Papua.

“Pertama mereka ini semua pendatang, bahkan belum tentu orang Papua sendiri mau mengajar di wilayah pedalaman. Kalau setiap ada penembakan dan kelompok separatis terus melakukan pembenaran dengan klaim bohong, ini akan menjadi situasi yang ketakutan. Bukan tidak mungkin guru-guru itu akan pergi,”

Ditambahkan bahwa upaya pembenaran yang dilakukan oleh kelompok separatis perlu ditindak lanjuti oleh pihak berwenang karena sudah menjadi keresahan, termasuk oleh Jubi sendiri yang harus mengklarifikasi pemberitaan bohongnya. 

“Kami sudah konfirmasi ke orang-orang terdekat termasuk Kepala Sekolah, Kepala Suku, beberapa tokoh masyarakat, mereka semua tidak ada yang membenarkan tudingan oleh Jubi. Untuk itu harus ada upaya yang dilakukan atas pemberitaan bohong tersebut,”

0 komentar:

Posting Komentar