Rabu, 07 April 2021

Konflik di Papua Sengaja Diciptakan oleh Kelompok Separatis untuk Keuntungan dan Nilai Uang


Kebebasan Papua dinilai hanya berorientasi pada nilai keuntungan atas ketersediaan sumber daya alam, hal tersebut tergambar pada aksi-aksi kelompok separatis yang ingin menguasai kekayaan di Papua dengan terus menciptakan konflik.

Meski dinilai Papua sudah jauh berangsur membaik dalam perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, ketersediaan fasilitas pokok seperti kesehatan dan pendidikan, ataupun meningkatnya taraf hidup masyarakat, selalu ada kelompok tertentu yang mencoba menggeser fakta tersebut.

Hal ini diungkapkan oleh salah seorang pengamat Papua, Franz Korwa tentang situasi yang sedang terjadi di Papua pada saat ini. jika ditelisik, menurut Franz, bahwa seluruh perluasan konflik yang terjadi hanya disebabkan oleh kepentingan dari kelompok separatis. 

“Secara fakta, Papua sudah jauh lebih sejahtera jika dibandingkan dengan kondisi beberapa tahun sebelumnya, setiap tahun selalu ada perkembangan yang signifikan. Tapi yang menjadi persoalan adalah masih eksisnya kelompok separatis yang selalu mengumbar masalah sehingga Papuakerap  dinilai sebagai wilayah rawan konflik,”

Franz menggambarkan jika isu konflik yang terjadi di Papua adalah satu-satunya cara yang harus dilakukan oleh kelompok separatis untuk mengangkat pergerakan dan meraih simpati dari dunia luar.

“Pada dasarnya mereka hanya melakukan playing victim dengan membuat konflik. Parahnya jika tidak ada konflik maka mereka akan menciptakannya. Sebab setelah konflik itu terjadi maka kelompok separatis akan bermain peran seolah mereka menjadi korban dari ketertindasan,”

Aksi tersebut dianggap Franz seabagai cara-cara lama yang masih terus dilakukan oleh kelompok separatis sampai saat ini. Franz menganggap jika tidak ada cara lain yang cukup relevan untuk mengangkat Papua pada isu internasional.

“Negara diluar sana lebih percaya jika Papua sudah bertransformasi menjadi daerah yang semakin maju, itu saja. Jadi satu-satunya cara yang bisa dilakukan kelompok separatis hanya dengan menciptakan konflik,”

Franz mengatakan jika kehidupan bermasyarakat di Papua jika disandingnya dengan seluruh wilayah di Indonesia maka tidak ada perbedaan. Manurutnya yang membedakan hanya tingkat kemauan dari masing-masing penduduknya. Hal tersebut merujuk pada propaganda dari kelompok separatis yang menganggap jika orang Papua akan hidup nyaman jika opsi berpisah dari NKRI terwujud.

“Saya pernah merasakan bagaimana hidup di Jawa, dan itu tidak ada beda dengan di Papua. Jadi kalau ada yang bilang selama ini OAP ditindas ataupun dibatasi, itu tidak ada sama sekali. Hal ini penting karena ada propaganda menyesatkan yang ditanam pada generasi di Papua. Kalau mau maju maka harus sadar diri juga, bekerja keras,” 

Dalam akhir penuturannya Franz menegaskan jika penindakan tegas kepada kelompok separatis menjadi salah satu upaya yang harus dilakukan. Sebab menurutnya pembangunan untuk mengangkat kesejahteraan di Papua telah terhambat dengan berbagai perlawanan yang dilakukan oleh kelompok tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar