Jumat, 02 April 2021

Pengamat Papua: Kelompok Separatis Ciptakan Perbedaan dengan Rasisme


Pengamat Papua menilai diskusi oleh kelompok pelajar/mahasiswa eksodus Papua adalah aksi terjepit yang dilangsungkan untuk mengangkat kampanye-kampanye tentang kebencian dan permusuhan.

Franz Korwa dalam tanggapannya terhadap diskusi yang mengangkat isu tentang rasial bagi Papua tersebut, menyatakan bahwa aksi yang dilakukan murni sebagai akal-akalan oleh kelompok anti pemerintah. Bahkan dikatakannya jika kelompok tersebut terafiliasi dengan gerakan separatis kemerdekaan Papua.

“Saat ini tidak ada pemantik, tidak ada apapun yang bersinggungan dengan isu rasial terhadap Papua, justru diskusi yang dilakukan itu lah menjadi provokasi untuk mengangkat kembali isu tentang rasis,” ujarnya.

Franz diketahui sangat menyesalkan diskusi daring yang didorong oleh eksodus dari kelompok mahasiswa pada tahun 2019 lalu. dirinya menyoroti eksistensi kelompok tersebut yang sangat tidak memberi arti ataupun nilai-nilai kebaikan bagi Papua.

“Sejak pertama kali adanya aksi eksodus sudah bisa dibilang kalau itu tidak jelas. Maksudnya, aksi eksodus waktu itu sebenarnya hanya sebatas provokasi. Bahkan saat eksodus terjadi yang terjadi malah menimbulkan kekacauan dan konflik baru,”

Franz menambahkan dampak konflik yang terjadi ketika dilakukan eksodus pada 2019 lalu cukup berkepanjangan. Hal tersebut yang ditekankan oleh Franz saat ribuan mahasiswa yang sebelumnya gencar kembali ke Papua kemudian merengek kepada pemerintah untuk segera dikembalikan ke kota studi masing-masing.

“Bisa dikatakan mereka melakukan eksodus atas kemauan diri sendiri, sebab tidak ada desakan yang mengancam. Yang perlu menjadi catatan adalah para mahasiswa itu kemudian merengek-rengek kepada pemerintah untuk bisa difasilitasi kembali ke kota studi masing-masing,”

Atas fakta mahasiswa eksodus yang telah kembali ke kota studinya untuk melanjutkan pendidikan, Franz lantas mempertanyakan atas diskusi via aplikasi Zoom yang terjadi, dirinya juga ragu atas diskusi yang mengatasnamakan mahasiswa eksodus. Sebab Franz menegaskan jika mahasiswa eksodus sudah tidak ada.

“Menjadi pertanyaan besar saat ini, sebab mahasiswa eksodus itu sudah tidak ada. mereka sudah kembali melanjutkan pendidikannya, itu juga atas kemauan mereka sendiri dengan bantuan pemerintah. Oleh karena itu saya yakin jika aksi yang dilakukan hanya sebatas provokasi oleh kelompok terafiliasi gerakan separatis,”

Franz juga meminta kepada seluruh komponen yang bersinggungan dengan Papua untuk bisa menjaga kedamaian dan menjauhi aksi-aksi provokasi. Hal tersebut disampaikan lantaran dirinya menemui pernyataan rasis justru dilakukan oleh orang Papua itu sendiri. Franz menjabarkan bahwa kelompok tersebut terus-menerus menganggap jika dirinya sendiri adalah monyet.

“Yang membuat saya sakit hati itu karena pernyataan rasis justru muncul dari kelompok mahasiswa Papua itu sendiri. Kemudian saya cari tahu, ternyata mereka yang melontarkan rasis itu memiliki kedekatan dengan kelompok separatis. Ini mereka sendiri yang rasis, mereka mau menciptakan perbedaan,”

1 komentar:

  1. Pak frans mata anda dan telinga anda dimana kalau yang mengatakan monyet adalah aparat keamanan indonesia,
    Lalu dimanakah anda berada ketika rarisme terjadi kepada mahasiswa papua waktu itu...?

    Kalau memang anda yakin bahwa tidak terjadi rasis terhadap mahasiswa papua di surabaya lalu kenapa anda diam ketika mahasiswa pulang ke papua pada waktu rasisme itu.

    BalasHapus