Kamis, 22 April 2021

Pengrusakan Mobil Victor Mambor Diduga Berkaitan dengan Peran Jurnalisme-nya


Pengrusakan kendaraan milik jurnalis senior Papua mendapat tanggapan dari direktur Eksekutif LP3BH Manokwari, Yan Christian Warinussy. Menurutnya aksi criminal oleh orang tidak dikenal (OTK) tersebut merupakan bentuk teror dan intimidasi psikis. (21/4)

Warinussy mengungkapkan jika aksi pengrusakan terhadap kendaraan pribadi milik Victor Mambor tersebut diduga berkaitan dengan tugasnya sebagai jurnalis yang mengawaki Jubi. Hal tersebut terasa kontras sebab Jubi adalah salah satu media paling mentereng di Papua.

“Jelas sangat berkaitan dengan tugasnya sebagai jurnalis, terlebih Jubi ini selalu menampilkan pemberitaan dari sudut pandang yang berbeda,”

Sebelumnya, Victor Mambor bersama dengan Arnold Belau (jurnalis Suara Papua) sempat dipolisikan dan diadukan ke Dewan Pers terkait provokasi atas pemberitaan yang tidak benar. Menurut Forum Komunikasi Lintas Kerukunan Nusantara (FKLKN) di Papua, berita terkait pembunuhan terhadap guru di Kabupaten Puncak sangat meresahkan. (19/4)

“Benar kami telah melakukan proses hokum terhadap Jubi dan Suara Papua atas berita penembakan terhadap guru yang dianggap sebagai mata-mata. Pernyataan ini kami sampaikan setelah mendapat konfirmasi jika berita tersebut tidak benar,” ujar Junaedi sebagai koordinator FKLKN.

FKLKN yang membawa kasus tersebut ke meja hukum disebabkan merasa khawatir dengan biasnya kasus dan fakta yang terjadi, terlebih korban bernama Yonatan Rende dan Oktovianus Rayo dikaitkan sebagai mata-mata oleh Jubi dan Suara Papua.

“Korban itu adalah guru, ada juga tukang ojek yang tidak pernah berafiliasi terhadap politik atau apapun, mereka hanya masyarakat biasa, hanya guru. Dan itu kita sudah kami tanyakan kepada pihak keluarga,”

Untuk itu, Junaedi meminta agar dalam pemberitaan lebih mengedepankan kesejukkan, bukan sebaliknya yang bisa membuat kegaduhan. Menurutnya berita yang disajikan perlu dimuat lebih berimbang agar tidak menimbulkan pemahaman yang salah. Karena stigma sebagai mata-mata bisa tersemat kepada siapa saja, terutama warga non Papua.

"Ini tidak boleh terjadi, secara jurnalis harus berimbang. Sampai hari ini saja disana, tidak ada berita bela sungkawa, sedikit pun rasa empati tidak ada bahwa dia sudah meninggal atau sudah dibunuh, mungkin karena berita itu juga, membuat takut. Apakah seluruh pendatang ini mata-mata. Apalagi situasi politik di Papua sedang panas. Sehingga hindari hal demikian, jangan sampai terjadi lagi, kita hidup di Papua itu ingin damai, jangan hanya slogan saja,"

0 komentar:

Posting Komentar