Jumat, 30 April 2021

Tidak Ada Kepentingan Agama dalam Label Teroris Papua, Natalisu Pigai Dianggap Upayakan Konflik Baru


Secara sah pemerintah Indonesai telah mengkategorikan kelompok separatis di Papua sebagai bagian dari teroris. Hal tersebut disampaikan oleh Menkopolhukam Mahfid MD dalam keterangannyanya pada Kamis 29 April 2021. Tidak lama berselang, tanggapan pun mulai mengalir atas pencanangan kelompok teroris tersebut. Bahkan oleh salah seorang aktivis HAM Papua, Natalius Pigai.

Namun aksi Natalius Pigai dianggap sedang mendorong politisasi dan justru mencampur adukkan nilai agama untuk mendorong konflik baru di Papua. Pernyataan tersebut lantas mendapat kritikandari sejumlah tokoh. 

Natalius dianggap mengkader bibit-bibit perpecahan pasca pemerintah sepakat mengkategorikan organiasi separatis di Papua sebagai bagian dari kelompok teroris.

Hal tersebut diungkapkan oleh salah seorang pengamat, Franz Korwa menyebutkan jika Natalius Pigai sedang menciptakan isu baru bagi konflik di Papua. Menurutnya aksi Pigai yang mengaitkan nilai agama dalam penanganan kekerasan teroris di Papua sangat tidak relevan.

“Dia ini asal bicara saja, tidak tahu situasi atau memang buta situasi, namun pendapat saya Natalius Pigai ini memang punya kepentingan tersendiri. Sebab tidak ada kaitannya penanganan terkait keamanan di Papua ini dibenturkan dengan konflik agama,”

Diketahui bahwa Natalius Pigai menganggap jika pengkategorian separatis di Papua sebagai teroris disebabkan dorongan sebuah kelompok yang terlebih dahulu dicap sebagai afiliasi ISIS dan Taliban. Korwa mengaku tidak habis pikir dengan pernyataan Natalius Pigai sebelumnya. Bahkan Korwa menuduh jika Natalius Pigai sedang mengalami sindrom politik praktis.

“Tidak ada yang bisa menampik memang jika politik praktis dengan membawa pengaruh agama cukup gencar terjadi di Indonesai sejak Pilgub DKI lalu, bahkan Pilpres kemarin masih ada sisa-sisanya. Saya curiga jika Pigai ini baru mau masuk ke arah sana. Namun saya tidak sependapat dengan ini, tentu konteksnya sudah berbeda,”

Dalam keterangannya, Korwa juga menegaskan kepada Pigai untuk tidak lupa akan jati dirinya sebagai Orang Asli Papua (OAP). Hal tersebut diungkapkan Korwa sebab dirinya merasa jika Pigai ‘lupa daratan’.

“Ingatlah jika kita semua ini dibesarkan di hutan Papua, jadi jangan merasa diri dan akhirnya membawa pengaruh buruk bagi kampung halaman. Memang hidup di Jakarta itu enak, kemudahan dan fasilitas lengkap sudah ada dimana-mana, tapi ingat lagi jati diri sebagai OAP,”

0 komentar:

Posting Komentar