Jumat, 21 Mei 2021

Tokoh Agama di Papua Dukung Penumpasan Konflik Akibat Teroris


Kelompok teroris yang menyatakan dirinya sedang membela hak-hak orang asli Papua nyatanya tidak mendapat dukungan penuh dari orang Papua itu sendiri. hal tersebut semakin membenarkan analisis dari pengamat teroris terkait adanya unsur kepentingan yang dibawa oleh kelompok separatis Papua dalam setiap konfliknya. (22/5)

“Konflik di Papua yang dilakukan oleh kelompok teroris ini sangat penuh dengan kepentingan pribadi, jauh dari hakikat untuk membela hak orang Papua,” ujar Stanislaus Riyanta.

Dukungan terkait penyelesaian konflik di Kabupaten Puncak juga datang dari Pengurus Gereja-gereja Jayawijaya (PGGJ) Pdt. Joop Suebu dalam keterangannya sangat mendukung setiap upaya pemerintah dalam menangani aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok teroris.

“Saya pribadi juga sebagai pengurus PGGJ megutuk keras aksi kekerasan yang terjadi di Puncak belangangan ini. korban berjatuhan mulai dari aparat keamanan hingga warga sipil,”

Pdt. Suebu dalam penyampaiannya sangat mengharapkan tindakan nyata yang dilakukan pemerintah Indonesia, baik atas penindakan terhadap kelompok teroris ataupun setiap induvidu diluar gerakan bersenjata yang sudah merugikan nama Papua.

“Permasalahan ini Papua ini juga tidak hanya konflik bersenjata, tapi juga ada dugaan korupsi. Itu semua orang-orangnya adalah pelaku kejahatan sehingga perlu ditindak demi Papua yang damai,”

Seperti diketahui, aksi kekerasan di tanah Papua telah banyak terjadi, baik dalam bentuk pengrusakan hingga pembunuhan. Dalam periode Januari hingga April 2021, kelompok teroris setidaknya telah melakukan 10 tindakan pembunuhan dan pengrusakan fasilitas publik di Papua. Mulai dari pembunuhan guru, pelajar, hingga tukang ojek. 

Kelompok teroris juga terlibat dalam pengrusakan dan pembakaran terhadap sekolah, helikopter milik PT. Arsa Air hingga rumah kepala suku dan guru di Beoga. Hal tersebut telah menambah catatan hitam kelompok teroris pada periode-periode sebelumnya. 

Tahun 2020, tercatat kelompok teroris telah melakukan 46 aksi kekerasan. Pada tahun 2018 telah membantai 31 pekerja sipil yang sedang melakukan pembangunan jalan Trans Papua. Bahkan pada tahun 2017 sebelunya , teroris Papua juga melakukan penyanderaan terhadap 1300 warga sipil di Distrik Tembagapura yang terulang lagi pada Maret 2020.

0 komentar:

Posting Komentar