Selasa, 10 Agustus 2021

Dianggap Korban Penangkapan, Buchtar Tabuni Tak Restui Aksi Mahasiswa dan KNPB


Mantan tahanan kriminal kasus kerusuhan pada tahun 2019 di Kota Jayapura, Buchtar Tabuni menanggapi adanya seruan aksi yang akan dilakukan oleh mahasiswa yang didukung salah satu organisasi pergerakan KNPB. (11/8)

Sebagai mantan tokoh KNPB yang pernah membawa mahasiswa Papua dalam berbagai mobilisasi pada awal tahun 2008, Buchtar menilai jika aksi mahasiswa dan KNPB terlalu gegabah. Dia menganggap jika aksi yang akan digelar hanya didorong oleh amarah.

“Mahasiswa dan KNPB akan menjadi pelaku. Saya khawatir mereka ini melakukan aksi tanpa mempertimbangkan situasi Papua kedepan. Kalau ini memang aksi spontan karena rasa marah, saya tidak setuju,”

Buchtar yang tidak membenarkan upaya mobilisasi massa bahkan menuding jika ada kelompok lain yang mencoba memanfaatkan momen tersebut.

“Tidak ada pembicaraan dari mereka kepada kami, justru kami tahu rencana aksi mereka dari Biro Politik,”

Buchtar mendesak kepada mahasiswa yang lekat dengan organisasi KNPB patut menghargai jerih payah kelompok ULMWP yang dianggapnya lebih mengetahui situasi dan kondisi terkait dinamika politik di Papua.

“Kami tidak ada maksud untuk membatasi, tapi mereka juga harus paham kalau ada tua-tua di ULMWP. Kami sudah ada untuk berjuang sebelum anak-anak ini mereka lahir,”

Buchtar juga menyatakan jika aksi mobilisasi massa oleh mahasiswa dan KNPB hanya akan menghantui ULMWP. Pihaknya mengaku jika ULMWP tengah memikirkan aksi yang lebih tepat ketimbang aksi turun jalan yang dilakukan KNPB.

“ULMWP jelas menolak aksi ini, kami punya rencana yang lebih baik. Kalau sampai mereka keras kepala untuk melanjutkan aksi, saya khawatir rencana ULMWP akan gagal,”

Buchtar yang mengaku sebagai korban atas pengerahan massa terkait kerusuhan di Jayapura pada tahun 2019 lalu tersebut merasa khawatir jika peristiwa serupa akan terulang Kembali.

“Saya ini korban dari pengerasah massa. Saya sama sekali tidak tahu tentang pergerakan rakyat Papua, tapi Polisi punya segala alasan untuk kemudian menangkap saya. Hampir setahun saya dipenjara, jauh dari Papua,”

0 komentar:

Posting Komentar