Minggu, 12 September 2021

Buchtar Tabuni: KNPB Belum Paham Makna Perjuangan Sesungguhnya


Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang didirikan pada medio tahun 2008, selalu lekat dengan anggapan kekerasan dan kriminalitas dalam aksi-aksi yang digelar. Hal itu juga yang akhirnya menjadi salah satu faktor salah seorang tokoh lawas KNPB untuk menyeberang ke organisasi lainnya.

Buchtar Tabuni yang saat ini telah menjadi tokoh penting dalam tubuh ULMWP menyebutkan jika peran KNPB dalam pergerakan perjuangan pembebasan Papua tidak pernah memberi arti positif.

“KNPB sudah banyak berubah sejak pertama kali didirikan, sekarang ini KNPB lebih cenderung ceroboh dalam melakukan aksi, makanya tidak jarang jika organisasi itu selalu sibuk berurusan dengan isu kekerasan,”

Buchtar Tabuni mengaku jika dirinya menjadi salah satu korban penangkapan aparat kepolisian pasca aksi yang digelar oleh KNPB tahun 2019 lalu. Bahkan dirinya mengaku jika peristiwa itu adalah sejarah kelam yang harus ditanggung oleh KNPB, dalam peristiwa tersebut total 33 orang warga sipil tewas dibantai para simpatisan KNPB.

“Pemenjaraan saya dulu juga karena aksi KNPB, informasinya ada 33 orang jadi korban karena aksi itu. Bagaimana tidak dicap sebagai organisasi kriminal kalau cara melakukan aksinya saja dengan membunuh orang,”

Atas kejadian itu tentu memudahkan aparat penegak hukum untuk mudah menjebloskan orang-orang dalam pergerakan pembebasan, hal tersebut yang dianggap Buchtar tidak pernah dipikirkan dengan baik oleh tokoh-tokoh KNPB. Karenanya Buchtar juga menyebut jika ULMWP lebih memiliki pengaruh berarti pada proses perjuangan.

“Orang-orang di KNPB tidak bisa memikirkan dampak atas aksi yang dilakukan, itu sangat salah karena bisa mengancam eksistensi organisasi. Berbeda dengan ULMWP, aksi kami selalu terencana dengan matang, yang terpenting tidak pernah ada simbol kekerasan disana,” 

Buchtar juga menyebutkan jika KNPB yang saat ini ada hanya sekedar kumpulan pemuda-pemuda yang masih labil dan perlu bimbingan. Buchtar menyebut kelompok tersebut sebagai orang yang baru mengenal sisi perjuangan lewat emosional. 

“Dengan cara kaderisasi yang dilakukan KNPB, mereka masih periu dibimbing untuk lebih mengenal makna perjuangan yang sesungguhnya. Karena yang saat ini terjadi, orang-orang KNPB masih mempercayai perjuangan dari emosinya saja,”

Buchtar juga menyoroti jika aksi KNPB terkait kekerasan juga telah menciptakan opini publik tentang upaya gangguan terhadap pelaksanaan PON yang akan digelar bulan Oktober mendatang. Bahkan Buchtar menuding jika KNPB telah bersekongkol dengan kelompok TPNPB pimpinan Jeffrey Pagawak.

“Sudah kelam jangan semakin dibuat kelam, KNPB mau apa main mata dengan Jeffrey Bomanak hanya untuk mengacaukan PON. Ingat jika KNPB itu organisasi sipil non-militer, senjata-senjata yang akhirnya berhasil diamankan itu fungsinya buat apa?”

0 komentar:

Posting Komentar