Jumat, 22 Oktober 2021

Pendekatan Kemanusiaan bagi Papua, Bukan Lewat Jalur Politik


Permasalahan di Papua kerap terjadi lantaran aksi provokasi, hal tersebut diungkapkan salah seorang tokoh senior Papua, Agustinus R yang menyatakan jika penyelesaian konflik selalu terhalang kepentingan kelompok pemberontak anti pemerintah. (23/10)

Menurut Agustinus permasalah pokok di Papua selalu dihambat dengan narasi-narasi terkait rasisme dan tudingan pelanggaran HAM.

“Setiap ada permasalahan itu pasti ada juga narasi terkait rasisme atau pelanggaran HAM. Apa yang terjadi itu karena ulah para pemberontak. Akhirnya penyelesaiannya terus terhambat,”

Agustinus menambahkan jika kelompok pemberontak hanya memanfaatkan situasi untuk mendukung kepentingannya dalam upaya memisahkan Papua dari NKRI.

“Itu saja yang sebenarnya mereka bisa, membangun konflik, menciptakan permusuhan. Tujuannya untuk memisahkan Papua dari NKRI. Padahal sekarang orang Papua sudah mulai sadar jika mereka hanya dimanfaatkan,”

Menolak klaim penyelesaian kasus di Papua melalui jalur politik, Agustinus mengatakan jika nilai-nilai luhur Papua harus lebih dikedepankan. Hal tersebut yang mendorong pernyataannya untuk lebih memilih pendekatan kemanusiaan dalam menyelesaikan konflik yang terjadi.

“Jangan setaiap yang terjadi dipolitisasi, apalagi muara dari penyelesaian konflik lewat jalur politisasi itu bisa dipastikan penuh dengan kepentingan. Itu tidak akan menyelesaikan masalah, Papua punya nilai luhur, itu yang seharusnya dilakukan,”

Terkait upaya penyelesaian konflik di Papua dengan pendekatan kemanusiaan, Agustinus mengatakan bahwa harus dilakukan dengan dasar pendidikan yang matang. Oleh sebab itu dirinya sangat mengapresiasi atas kemauan orang Papua yang belajar di luar provinsi. Namun ada beberapa hal yang akhirnya dikritisinya terkait hal tersebut.

“Bagus memang jika ada orang Papua yang belajar di luar daerah, tetapi yang perju jadi perhatian adalah bagaimana mengakomodir para mahasiswa/pelajar ketika berada di perantauan. Fungsi asrama mahasiswa yang dibangun oleh pemerintah itu harus diperhatian dengan baik,”

Agustinus dalam keterangannya mengatakan telah ada beberapa permasalahan baru yang terjadi akibat mahasiswa Papua tidak mendapat pendampingan yang tepat ketika menempuh pendidikan di luar daerahnya.

“Jangan sampai asrama yang dibangun malah digunakan untuk hal-hal yang menyimpang, karena sudah banyak kasusnya. Asrama yang seharusnya menjadi sarana dukungan untuk belajar, malah digunakan untuk hal lain yang sifatnya memberontak dan melawan negara,”

0 komentar:

Posting Komentar