Jumat, 05 November 2021

Harapan Baru KINGMI Selepas Digantinya Benny Giay


Pdt. Dr. Benny Giay yang memegang kuasa selama dua periode sejak tahun 2010 sebagai Ketua Sinode Gereja KINGMI saat ini secara resmi telah melepas jabatannya. Dalam penyampaiannya pada Konferensi Sinode XI di Gereja KINGMI Jemaat Martin Luther Amungsa, Timika, (4/11) Benny mengatakan jika Gereja KINGMI dianggap mengalami banyak perkembangan dan kemajuan.

Kemajuan yang disampaikan Benny Giay adalah semakin terbukanya pemikiran masyarakat untuk melihat kehidupan. Dirinya meyakini jika sudah semakin banyak keluarga KINGMI yang mulai memiliki kesadaran dan melihat perubahan. Benny sedikit mencontohkan perubahan tersebut adalah sudah banyak keluarga jemaat yang mulai menabung sebagai investasi untuk kehidupan dimasa yang akan datang.

Meski demikian Benny Giay tidak menampik jika terdapat beberapa faktor lain yang dianggapnya masih cukup tertinggal, hal itu disebutkan oleh Benny adalah faktor pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dan relasi dalam lingkungan jemaat. Empat 

Pernyataannya tentang empat factor ketertinggalan sebelumnya dianggap beberapa pihak sebagai pernyataan yang tidak tahu malu. Hal itu sama dengan mengubur diri dalam lubang yang digalinya sendiri. Perubahan oleh masyarakat adalah sesuatu yang lumrah terjadi tanpa perlu campur tangan para pemimpinnya. Sebab kebutuhan mendasar secara tidak langsung akan menuntun bagaimana jemaat memilih jalan hidupnya melalui pola pikirnya masing-masing.

10 tahun sudah berlalu tanpa ada aksi nyata yang dilakukan oleh Benny Giay terhadap KINGMI. Benny Giay hanya bisa mengklaim kemajuan dari hal-hal yang tidak substansial. Padahal seharusnya dirinya sadar jika bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan bagi jemaatnya harus dipikirkan. Kedudukannya dianggap tidak memberi pengaruh besar bagi KINGMI, sebab satu dekade waktu yang sudah dihabiskan tidak membuktikan perubahan yang berarti dalam tubuh KINGMI.

Ternyata kingmi tidak lebih besar darinya. Benny Giay dianggap lebih memikirkan eksistensi dirinya sendiri. Benny memilih untuk mencampuri urusan politik dengan menjadikan agama dengan simbol-simbolnya sebagai tameng. Keterlibatan Benny Giay dalam dunia politik praktik tercatat sudah beberapa kali membuat situasi Papua menjadi panas-dingin. Menggerakkan pemikiran dan mendorong kebencian acapkali dilakukan hanya untuk meloloskan kepentingan pribadinya.

Dalam sebuah rekam jejaknya, Benny Giay adalah salah satu tokoh yang vokal bersuara untuk menentang pelaksanaan pemerintahan di Papua. perlu ditekankan bahkan aksinya adalah menentang pemerintahan, bukan sebagai aksi kritik untuk membangun hal yang lebih baik bagi Papua. hal tersebut yang akhirnya mendorong anggapan jika Benny Giay adalah bagian dari aksi separatisme di Papua.

Benny Giay dengan segala kontroversinya lebih tepat disebut sebagai pemberontak, bersama dengan nama-nama lain seperti Socratez Yoman ataupun Dorman Wandikbo, ketiganya telah nyata mengundang kebencian dalam setiap aksi terselubung yang dilakukan. Padahal salah satu fungsi tokoh agama adalah sebagai penangah dalam setiap konflik yang timbul terjadi.

Melihat bagaimana sepak terjang seorang Benny Giay yang tidak takut mengumbar perlawanan untuk terus mendorong konflik agar semakin menjadi-jadi, ditambah dengan sekelumit pernyataannya yang secara terang-terangan berkubu pada kelompok separatis di Papua, membuat banyak pihak hilang respect kepadanya, meski dalam namanya menyandang gelar pendeta ataupun doktor.

Kisah habisnya masa jabatan Benny Giay sebagai Ketua Sinode Gereja KINGMI harus bisa disikapi dengan baik oleh penggantinya. Momentum saat ini harus bisa menjadi batu loncatan bagi KINGMI untuk bisa merintis hal baru yang akan lebih memberi nilai manfaat bagi jemaat, dan kehidupan di Papua secara menyeluruh.

0 komentar:

Posting Komentar