Rabu, 03 November 2021

Kelompok Separatis Faktor Utama Penghambat Kemajuan di Papua


Kelompok separatis di papua dalam setiap aksinya selalu memperlihatkan kebiadaban, bahkan aksi-aksi yang dilakukan tidak terkecuali menyasar warga sipil, baik orang pendatang maupun orang asli Papua sendiri. Keberadaan kelompok separatis di Kabupaten Intan Jaya pada akhir-akhir ini telah menimbulkan permasalahan yang cukup kompleks.

Menurut salah seorang warga Sugapa, Intan Jaya, Alex Sondegau mengatakan jika selain mengharuskan para warga untuk mengungsi ke tempat-tempat yang dirasa aman, menurutnya konflik berkepanjangan masih akan terus terjadi. Hal tersebut dianggapnya akan membuat kehidupan warga menjadi terganggu.

“Penyerangan yang dilakukan kemarin sudah membuat warga menjadi takut, kami harus mengungsi. Tetapi yang harus dipikirkan sekarang ini adalah bagaimana kehidupan kami bisa kembali normal kembali,”

Sondegau menambahkan jika keberadaan kelompok separatis yang sudah mengganggu ketenteraman tidak bisa dianggap sedang membela hak-hak orang Papua.

“Kalau memang membela hak-hak orang Papua, datang kemari, lihat apa yang terjadi. Kami butuh apa, coba penuhi. Kelompok separatis ini tidak tahu arah dan tujuan yang pasti untuk melakukan penyerangan-penyerangan. Memang sumber konflik itu berasal dari mereka,”

Frans Korwa dalam sebuah keterangannya menyebut jika keberadaan kelompok separatis di Papua adalah salah satu faktor penghambat paling utama atas kemajuan dan kesejahteraan di Papua. Kelompok separatis, menurutnya masih memiliki pemikiran yang terbelakang.

“Keberadaan kelompok separatis yang menjadi perhatian utama terkait kesulitan membangun Papua. Sebab akan percuma juga jika pemerintah melakukan upaya untuk mengangkat kesejahteraan tapi masih eksis pergerakan separatisme. Mereka akan terus menolak meski dengan alasan yang tidak masuk akal,”

Beragam kasus kekerasan telah melahirkan tragedi kemanusiaan sudah sangat membekas di hati warga Papua. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, sepanjang tahun 2010 hingga 2020 telah terjadi 204 kasus kekerasan di Provinsi Papua dan Papua Barat. 

Ironisnya, lebih dari separuh kasus kekerasan itu pelakunya adalah kelompok separatis yang notabene mereka adalah orang asli Papua. Hal itu didasarkan pada penelusuran di lapangan dan riset media lokal.

Tim UGM mencatat, tindak kekerasan yang melibatkan kelompok separatis mencapai 118 kasus. Adapun 42 kasus dilakukan oleh warga, 28 kasus oleh TNI-Polri, dan 16 kasus oleh orang-orang tak dikenal. Jumlah korban sedikitnya 1.869 orang, dan 356 meninggal dunia, terdiri atas 46 prajurit TNI, 34 prajurit Polri, 26 anggota KKB dan selainnya adalah warga sipil.

0 komentar:

Posting Komentar