Minggu, 28 November 2021

Pelurusan Sejarah 1 Desember di Papua


Momen peringatan tanggal 1 Desember di Papua dianggap oleh salah seorang tokoh senior Papua sebagai bentuk kekeliruan yang mengakar. Menurut Herman Yoku sejarah peringatan 1 Desember yang selalu digaungkan oleh kelompok separatis secara tidak langsung sudah membelenggu pemikiran orang Papua.

“Setiap mendekati 1 Desember itu pasti aktivis-aktivis, simpatisan, atau setiap orang yang mendukung aksi separatisme di Papua selalu mengklaim hari itu sebagai hari kemerdekaan. Padahal faktanya tidak seperti itu, sejarah 1 Desember bukan seperti apa yang mereka pikirkan,”

Menurut Herman Yoku peringatan 1 Desember di Papua harus diluruskan dari sejarah sebenarnya, dirinya mengatakan jika peringatan 1 Desember adalah bentuk propaganda dari Belanda untuk sengaja menciptakan konflik di Papua. Momen tersebut juga dianggap sudah terlalu membodohi sebagian generasi Papua yang tidak memahami sejarah secar autuh.

“Selama ini mereka mengklaim sebagai hari ulang tahun, padahal ada kekeliruan dari pemahaman yang tidak utuh. Sejarah 1 Desember itu ibarat propaganda Belanda yang sengaja menciptakan konflik di Papua, sayangnya sampai hari ini masih ada sebagian generasi di Papua yang mempercayainya,”

Menurut tokoh yang juga merupakan anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) tersebut, simbol Bintang Kejora yang diyakini menjadi bendera negara hanya merupakan kreasi sebagai bendera tim sepak bola asal Nafri.

“Bisa dibilang agak lucu, bendera negara hanya diadopsi dari bendera klub sepak bola. Corak bendera Bintang Kejora itu sudah lebih dahulu digunakan klub sepak bola asal Nafri, jadi dibagian bintang awalnya adalah gambar bola,”

Herman Yoku menegaskan jika sudah saatnya generasi penerus di Papua memahami sejarah dan asal muasal kaumnya. Mendukung aksi separatisme dengan membangga-banggakan simbol Bintang Kejora sudah membangkitkan rasa sakit masa kolonialsme Belanda di Papua. Sebab sejatinya orang Papua adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan seluruh orang-orang di Nusantara. 

0 komentar:

Posting Komentar