Minggu, 14 November 2021

Penjelasan Pengamat Terorisme Terkait Perang Terbuka Undinus Kogoya


Aksi separatisme yang telah membuat Kabupaten Intan Jaya menjadi kacau, saat ini justru makin berkembang terkait pernyataan perang terbuka dari Undinus Kogoya sebagai pemimpin kelompok separatis di kabupaten tersebut. Bahkan pernyataan Undinus sudah dikabarkan langsung oleh markas pusat dari kelompok separatis melalui Sebby Sambom sebagai juru bicara.

Namun, pernyataan perang terbuka seperti yang disampaikan Undinus Kogoya bukanlah yang pertama kali terjadi. Sebelumnya pada bulan Oktober lalu, Lamek Taplo sebagai pimpinan kelompok separatis di Kabupaten Pegunungan Bintang juga menyerukan hal serupa. 

Menurut salah seorang pengamat bidang terorisme Dani Hermawan, pernyataan perang terbuka hanya dalih dan alasan karena pihak kelompok separatis sudah mulai terdesak karena aksi-aksinya sudah mulai terbatasi. Secara rasionalitas aksi menantang aparat TNI/Polri untuk melakukan perang terbuka adalah tindakan konyol. (15/11)

“Terakhir ada pernyataan serupa juga dari Lamek Taplo di Kabupaten Pegunungan Bintang. Pengerahan pasukan dalam jumlah yang cukup besar sudah membuat Lamek cs terdesak dan bergeser jauh dari wilayah Pegunungan Bintang, barulah pernyataan itu muncul. Kemudian saat ini, skema yang hampir sama terjadi di Kabupaten Intan Jaya,”

“Aksi menantang TNI/Polri juga sangat tidak rasional, kemampuan dari kelompok separatis itu tidaklah besar. terkait ancaman yang mereka lakukan selama ini juga hanya karena mereka diuntungkan medan, mereka cuma berani melakukan aksi ‘kucing-kucingan’ dengan aparat,”

Dani menambahkan jika pernyataan perang terbuka tidak pernah terrealisasi, sebab dalam catatannya, setelah dikeluarkannya pernyataan tersebut ada kecenderungan jika konflik justru mereda. Dani meyakini jika pernyataan perang terbuka hanya bualan kelompok separatis untuk menjaga eksistensinya.

“Fakta menarik banyak terjadi ketika kelompok separatis sudah mengeluarkan pernyataan perang terbuka, sebab justru konflik akan mereda. Pernyataan semacam itu hanya aksi membual untuk menjaga eksistensi saja,”

Meski demikian, Dani menegaskan jika memang harus dilakukan perang terbuka antara kelompok separatis dengan aparat keamanan, maka hal tersebut bukan menjadi persoalan yang sulit bagi TNI/Polri. Dani mengungkapkan jika salah satu faktor yang berlarut-larut terus menghambat upaya penegakan hukum terhadap kelompok separatis adalah dihadirkannya kelompok sipil sebagai tameng.

“Sebenarnya dari diri saya pribadi perang terbuka bukan sesuatu yang menjadi persoalan, tentu kita lihat kekuatan yang ada, TNI/Polri akan dengan mudahnya mengatasi hal tersebut. Jika memang benar pernag terbuka terjadi, tentu yang diharapkan adalahj tidak ada lagi aksi-aksi serupa karena kelompok separatis sudah habis (kalah),”

“Tetapi ada faktor lain yang perlu mendapat perhatian lebih, sebab kelompok separatis selalu memanfaatkan setiap situasi terutama dengan menyeret kelompok sipil sebagai tameng. Ini adalah tindakan yang sangat licik, sebab akan berkembang lagi propaganda terkait isu kemanusiaan yang dipolitisasi untuk membela pihak mereka dan tentu menyalahkan upaya aparat keamanan,”

0 komentar:

Posting Komentar