Jumat, 26 November 2021

Seruan Dewan Gereja Papua Dipersoalkan


Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom dalam sebuah keterangannya mengungkapkan jika perjuangan pembebasan Papua jangan dikotori dengan kontestasi dan kepentingan kelompok. Keresahannya tersebut muncul melihat upaya segelintir orang yang seolah-olah sedang menjual nama Papua.

Sebby mengatakan bahwa orang Papua memiliki martabat sejak diturunkan oleh para orang-orang tua terdahulu. Oleh sebab itu dirinya tegas memegang teguh bahwa perjuangan untuk pembebasan Papua tidak boleh dilakukan dengan menjatuhkan nama Papua. (25/11)

“Berjuang itu perlu memang harus ada yang dikorbankan, bisa darah, keringat, pemikiran. Tapi jangan sekali-sekali kita mengemis, itu sudah menjatuhkan martabat orang Papua. Kita punya nama yang besar, jangan malah dijatuhkan oleh orang Papua sendiri seakan kita sedang terpuruk dan tidak berdaya,”

Pernyataan Sebby Sambom tersebut diduga menyinggung soal seruan Dewan Gereja Papua menanggapi dinamika yang terjadi di Papua. Dirinya menilai bahwa aksi tersebut telah melecehkan semangat perjuangan. (21/11)

“Memang punya hubungan dengan ULMWP, kalau konteksnya (berjuang) lewat jalur diplomasi itu cukup bisa dibenarkan. Mereka mengadopsi jalur diplomasi tapi tidak bisa mengimplementasikannya, Dewan Gereja justru melecehkan semangat perjuangan,”

Menanggapi seruan yang dikeluarkan Dewan Gereja Papua, salah seorang tokoh senior menjelaskan jika aksi tersebut hanya sekedar memanfaatkan situasi berkaitan dengan Imam Katolik Keuskupan Timika yang sebelumnya membuka pernyataan atas aksi-aksi separatisme di Kabupaten Intan Jaya. (26/11)

“Yang saya perhatikan juga Dewan Gereja ini cuma sekedar ikut-ikutan seperti yang dilakukan Imam Katolik di Timika (31/10) dulu. Sebab kedua hal itu sangat berbeda, kalau Dewan Gereja memang mereka tidak sedang berbicara demi kebaikan, bisa dikatakan mereka itu provokator,” 

Korwa juga menjelaskan jika narasi miring yang dianggap kontroversi selalu digulingkan kelompok yang terafiliasi dengan gerakan pembebasan Papua ketika aksi-aksi yang bersinggungan dengan penggunaan senjata dianggap mengalami kebuntuan.

“Memang kondisinya harus demikian, saya melihat kalau tidak ada konflik bersenjata maka akan muncul kelompok-kelompok yang membuat panas dengan kontroversi. Kelompok ini (Dewan Gereja) yang membuat Papua terasa tidak pernah terasa damai. Padahal mereka ini tokoh agama, seharusnya punya tanggung jawab moral disana,”

Korwa mengkritik aksi Dewan Gereja yang dimotori oleh Benny Giay, Andrikus Mofu, Dorman Wandikbo, dan Socratez Yoman. Menurutnya kelompok Dewan Gereja yang diisi oleh para pendeta tersebut sudah mencederai hakikat dan prinsip agama yang seharusnya bisa membawa kedamaian.

“Dewan Gereja bukan memberi jalan tengah untuk kedamaian namun justru terus menjaga api konflik, hal seperti ini harus selalu dikritik karena sudah menggeser hakikat dan prinsi dalam agama,”

Korwa juga membantah pernyataan Dewan Gereja terkait pembatasan atas hak-hak dasar orang Papua. Justru menurutnya yang terjadi terhadap orang Papua saat ini adalah momen degradasi mental. Korwa menegaskan jika seluruh orang Papua memiliki kesempatan yang sama untuk bisa mengembangkan diri.

“Tidak pernah ada pembatasan, semua orang punya kesempatan yang sama. Hanya saja degradasi mental sedang terjadi, kembali lagi pada propaganda dari kelompok separatis misalnya, mereka selalu sesumbar kehidupan yang lebih baik, tentang kekayaan alam yang bisa mensejahterakan Papua, secara tidak langsung opini-opini seperti itu telah membentuk orang Papua menjadi malas,”

0 komentar:

Posting Komentar