Minggu, 14 November 2021

Tokoh Adat Nilai Pertemuan Ketua KNPB dengan Aparat Disalah Artikan untuk Kepentingan


KNPB dikenal sebagai organisasi separatis yang selalu meributkan sesuaru dengan mengatasnamakan hak asasi manusia, hal tersebut seolah memberi anggapan jika KNPB adalah organisasi yang mendukung kesetaraan. Meski saat ini dunia internasional sudah memahami arah dan tujuan KNPB sebagai organisasi yang tidak lebih dari upaya mencari keuntungan dan meloloskan sejumlah kepentingan. Mereka banyak dikecam karena sejumlah kekacauan di Papua selalu bermula dari organisasi pimpinan Agus Kossay tersebut.

Meski secara terang-terangan mengaku sebagai organisasi separatis yang menentang pemerintahan, keberadaan KBPB tidak selalu dipandang sebagai musuh negara. Presiden Joko Widodo dengan besar hati pernah menyatakan jika penanganan masalah di Papua terkait separatisme sudah dievaluasi dan akan dilakukan pendekatan dengan sudut pandangan kemanusiaan.

Salah seorang Tokoh Adat Suku Kamoro, Gregorius Okoare menanggapi aksi KNPB dalam beberapa waktu terakhir telah mengungkapkan apresiasinya terhadap langkah negara melalui aparat keamanan dalam menangani KNPB ataupun berbagai organisasi separatis lainnya. Menurutnya perubahan memang sudah nyata terlihat bagaimana aparat TNI/Polri bekerja dengan mengedepankan sisi humanisme.

Namun hal tersebut tentu tidak serta merta terjadi, Gregorius menyatakan jika aparat ibarat cerminan terhadap diri setiap orang/kelompok, aparat tidak mungkin gegabah dalam mengambil tindakan. Dirinya mencontohkan terkait upaya diskusi dalam penyelesaian masalah selalu dilakukan dengan situasi yang tenang dan damai, hal tersebut yang dikatakan berbeda melihat upaya aparat dalam menangani aksi teror oleh kelompok spearatis yang sudah menggunakan piranti senjata api.

Terkait pertemuan pihak kepolisian dengan Agus Kossay di Kota Jayapura (13/11), justru hal tersebut sangat perlu diapresiasi. Bukan hanya sebagai upaya persuasif untuk meminta KNPB tidak melakukan aksi yang melanggar undang-undang terkait situasi keamanan di Kota Jayapura, peristiwa tersebut juga perlu dipandang sebagai bentuk silaturahmi atau upaya koordinasi yang bisa terjadi kapanpun dan dimanapun.

Gregorius berpandangan bahwa dalam pertemuan yang terjadi antara Agus Kossay dan pihak polisi, keduanya sepakat untuk menanggalkan identitas dan kepentingan masing-masing. Diskusi yang terjadi hanya terkait komunikasi tanpa mengaitkan upaya-upaya yang bersifat strategis.

Meski demikian pertemuan tersebut tentu telah menimbulkan polarisasi terkait opini-opini dari berbagai pihak, hal itu juga dikarenakan KNPB adalah organisasi yang memiliki cukup banyak simpatisan. Sebab kelompok simpatisan KNPB yang berpandangan sempit selalu mendramatisir setiap peristiwa yang terjadi, untuk terus dimanfaatkan agar melahirkan konflik lain yang lebih besar.

Propaganda yang dilakukan KNPB dipandang oleh Gregorius sebagai paranoid yang harus segera ditinggalkan. KNPB kerap mengklaim pihaknya sbeagai organisasi yang membela ha katas kemanusiaan, bahkan hal tersebut kerap disampaikan dalam mimbar bebas sebagai tuntutan, namun komunikasi sebatas pertemuan antara Agus Kosay dengan polisi yang bahkan tidak pernah terjadi aksi melukai, pemborgolan, ataupun penangkapan terus-menerus dipandang sebagai ancaman.

Dalam kesempatan tersebut Gregorius lantas menegaskan jika KNPB harus bisa bisa memposisikan diri dengan bijaksana, KNPB juga harus mampu membuka diri atas segala dinamika yang terjadi, dan menimbang segala aksi yang dilakukan dengan tipu daya propaganda. Sebab berbagai peristiwa berdarah yang terjadi di Papua seperti demo anti rasis di Kota Jayapura dan Wamena yang berujung pada kerusuhan, masih membekas dalam ingatan bahwa KNPB adalah aktor utama dibalik peristiwa kelam tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar