Senin, 06 Desember 2021

Buchtar Tabuni: “KNPB Sengaja Bangkitkan Mayat Mati”


Pembebasan Papua dianggap sebagai salah satu aksi yang banyak menguras energi dan tenaga, sebab upaya tersebut sudah dilakukan berpuluh-puluh tahun lamanya dan sampai dengan saat ini masih belum bisa dikatakan sebagai sebuah keberhasilan. 

Sadar akan pergolakan yang terus terjadi, Buchtar Tabuni sebagai Wakil Ketua ULMWP menyampaikan pendapatnya terkait hambatan dalam memperjuangkan Papua. Menurutnya aksi perjuangan telah dikotori oleh kepentingan oknum hingga terjadi dualisme dan melahirkan berbagai kelompok tandingan.

“Perjuangan di Papua ini tidak semudah yang dibayangkan, karena dari internal kita sendiri saja masih sering terjadi konflik. Saya kaitkan dengan tujuan dan kepentingannya, ternyata mereka banyak dari orang-orang yang tidak menyukai pencapaian ULMWP, sampai akhirnya melahirkan kelompok-kelompok tandingan,” ungkap Buchtar Tabuni.

Terkait hal tersebut, lebih khusus Buchtar menyoroti pernyataan KNPB dalam melakukan deklarasi mendukung New Guinea Raad (NGR) sebagai upaya politik dalam pergerakannya. Menurutnya dukungan terhadap NGR adalah aksi ilegal yang sengaja dimunculkan oleh KNPB hanya untuk menyingkirkan peran ULMWP.

“KNPB hanya sedang memanfaatkan keberadaan NGR yang saat itu dibentuk tahun 1961. Untuk saat ini aksi tersebut seakan-akan tidak lagi rasional, jadi bisa dikatakan kalau deklarasi mendukung NGR adalah ilegal. KNPB mau menyingkirkan ULMWP dari peta perjuangan,”

Terkait aksi yang dianggapnya ilegal, Buchtar berpandangan bahwa NGR adalah organisasi bentukan Belanda yang dibentuk tahun 1961. Namun karena masa bakti NGR hanya satu tahun, maka pada tahun 1962 NGR sudah dibubarkan. Buchtar justru menuduh jika KNPB tidak lagi memiliki cara lain untuk sekedar meruntuhkan dominasi ULMWP dalam melakukan aksi politik memperjuangkan Papua.

“Tidak ada lagi alasannya, memang faktanya KNPB mau menggeser ULMWP, tapi mereka sudah tidak punya cara lain. Maka segala cara akan dilakukan, meski dengan membangkitkan mayat mati. NGR kan sudah dibubarkan tahun 1962,”

Buchtar menambahkan bahwa seharusnya seluruh elemen di Papua tidak perlu khawatir terkait aksi perjuangan yang saat ini sedang berjalan. Sebab West Papua dikatakannya sudah memiliki pemerintahan sendiri dibawah kepemimpinan Benny Wenda.

“Sebenarnya tidak perlu lagi melakukan aksi-aksi tandingan, kita sudah punya pemerintahan sendiri dibawah kepemimpinan Tuan Benny Wenda. Atau apakah sebenarnya Ketua KNPB juga mau menjadi kepala negara?”

Pada akhir penyampaiannya, Buchtar kembali memutar ingatan terkait salah satu alasan dirinya keluar dari kepengurusan KNPB. Menurutnya KNPB diisi oleh orang-orang yang kurang kompeten, sehingga kerap terjadi aksi spontan yang pada akhirnya rawan menjadi gejolak dan justru hanya akan menghancurkan perjuangan.

“Saya sempat mengisi kepengurusan di KNPB, tapi memang sejak saat itu KNPB bukanlah organisasi yang sehat. Banyak orang-orang yang mengisi pos pengurus tapi tidak paham tugas pokoknya. Banyak pertentangan di KNPB karena banyak juga kepentingan yang dibawa oleh orang-orang disana,”

Buchtar menambahkan jika diantara pengurus KNPB masih memiliki sifat yang egois. Sehingga kerap terjadi selisih pendapat yang tidak perlu, bahkan Buchtar mengungkapkan jika KNPB adalah organisasi yang rawan disusupi kepentingan asing.

“KNPB juga sering disusupi, bahkan orang-orang di KNPB juga sering mengemis bantuan kepada pemerintah Indonesia. Ini sudah jadi rahasia umum, tapi tidak pernah menjadi persoalan karena memang di KNPB itu baku tipu semua didalamnya, semua mau kaya meski dari cara seperti itu,”

0 komentar:

Posting Komentar