Kamis, 09 Desember 2021

Pembunuhan Nakes Dilupakan, Aksi Hari HAM Tidak Murni Dukung HAM


Orasi dalam peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia yang digelar oleh para mahasiswa Universitas Cenderawasih di halaman Gedung Pasca Sarjana dinilai sebagai karena salah presepsi dalam memahami dinamika di Papua. aksi tersebut juga dianggap sarat kepentingan terkait dukungan gerakan separatisme di Papua. (10/12)

Salah seorang tokoh senior Papua Agustinus R mengatakan bahwa aksi mahasiswa tidak didasari oleh keadaan yang sebenarnya, sebab seluruh isi pendapat yang dikemukakan hanya semata-mata untuk mendukung pihaknya sendiri.

“Hari ini kalian bicara HAM, genosida, pembunuhan, operasi militer, tapi kalian lupa bicara kalau ada tenaga kesehatan yang harus menemui ajalnya dengan cara yang tidak manusiawi karena dibunuh bahkan sebelumnya sempat diperkosa oleh gerombolan TPNPB-OPM, genosida itu adanya di Australia,”

Agustinus juga mendesak atas peristiwa kematian Pdt. Masmur yang dibunuh dengan cara tidak wajar karena polemik atas kepentingan. Bahkan kasus kematian Pdt. Masmur diketahui sempat menyeret nama Ketua Sinode KINGMI yang Lama, Benny Giay.

“Jangan karena Benny Giay adalah salah satu orang yang memihak gerakan separatis maka kalian tidak mau membahasnya. Padahal kamatian Pdt. Masmur itu sudah tidak wajar, dia dibunuh, artinya ada pelanggaran HAM disana,”

Agustinus menambahkan bahwa aksi yang dilakukan oleh mahasiswa Uncen tersebut tidak akan mendapat perhatian lebih dari dunia luar. Dirinya menuduh mahasiswa hanya pintar berbicara tanpa mampu bekerja dan berbuat lebih untuk kesejahteraan masyarakat di Papua.

“Memang paling mudah itu hanya menuduh, saking sibuknya menuduh mereka lupa diri sendiri. Kalian bicara tinggi tapi tidak mungkin bisa melaksanakannya, kalian cuma terlihat pintar karena banyak bicara. Saya yakin aksi ini tidak akan dapat banyak perhatian karena omong kosong saja semua isinya,”

Aksi yang diketahui juga tersisipkan kampanye tentang Papua merdeka tersebut juga membuat Agustinus merasa geram. Dirinya justru mempertanyakan tujuan mahasiswa menuntut kemerdekaan bagi Papua.

“Kalian hanya sibuk teriak merdeka, padahal orang lain sudah beranjak untuk bekerja dan tentu meninggalkan kalian orang-orang yang tidak mau maju. Kalian memang tidak mampu bersaing, makanya hanya bisa melihat kesuksesan orang lain dengan iri dan dengki,”

Sebab Agustinus berkeyakinan bahwa kemerdekaan bagi Papua bukan satu-satunya faktor yang dapat membuat masyarakat menjadi sejahtera. Sebab etos kerja dari masyarakatnya sendiri yang akan membuktikan bagaimana daerah tersebut dapat terpacu untuk berkembang. Agustinus menganggap jika janji-janji yang diumbar oleh Benny Wenda telah mempengaruhi pola pikir masyarakat Papua.

“Mereka yang bangga menjadi bagian dari aksi separatis sudah dibutakan janji-janji yang selalu disuarakan Benny Wenda, padahal mau Papua merdeka atau tidak, kalau orang-orangnya tidak mau bekerja ya pasti tidak akan berubah, kalian pikir kalau merdeka makanan bisa datang sendiri?”

0 komentar:

Posting Komentar