Senin, 03 Januari 2022

Dampak Separatisme Papua Catatkan Ribuan Korban Sipil


Gerakan separatisme masih menjadi pekerjaan rumah terbesar yang harus dilakukan oleh sejumlah pihak terkhusus bagi wilayah Papua. Hal tersebut mengingat aktivitas yang menyangkut aksi separatisme dinilai sudah cukup menjalar dan terjaga eksistensinya lewat upaya-upaya kompleks.

Menurut salah seorang pengamat terorisme adanya gangguan kamtibmas terkait gerakan separatisme tidak hanya terpusat pada sisi konflik bersenjata, namun juga sudah mengarah dan meluas lewat peran-peran dan aksi yang bersifat politis.

“Kacaunya di Papua ini konflik bukan hanya karena adanya eksistensi kelompok separatis bersenjata, tapi juga dikuatkan dengan adanya sayap organisasi politik yang muaranya juga mendukung gerakan pembebasan Papua,” ujar Bambang Sasongko.

Disebutkan oleh Bambang bahwa aksi politik tidak hanya dilakukan oleh organisasi semacam ULMWP ataupun KNPB, bahkan oleh kelompok TPNPB-OPM sendiri secara langsung telah melakukan aksi-aksi politik lewat propaganda yang digencarkan. Hal tersebut yang dianggap Bambang bahwa informasi terkait gerakan separatisme di Papua rawan kekeliruan.

“Bukan hanya KNPB atau ULMWP, kelompok bersenjatanya juga sudah mulai aktif melakukan aksi yang sifatnya politis. Hal ini yang saya maksud bahwa informasi terkait aksi separatisme rawan sekali dipelintir, karena propaganda yang dilakukan untuk mendukung kepentingan separatisme,”

Terkait informasi yang rawan kekeliruan, Bambang menjelaskan pernyataan Undius Kogoya terkait provokasi dan aksi perangnya juga mengarah pada upaya politis, hal tersebut dikuatkan dengan klaim bahwa upaya yang dilakukan Undius sebagai bentuk perjuangan demi kedamaian di Tanah Papua.

“Klaim yang tidak masuk akal seperti itu saja sudah memberi dampak berupa dukungan-dukungan atas aksi yang dilakukan. Saya melihat bahwa tingkat kesadaran orang-orang disana tidak cukup memahami tentang kondisi yang seharusnya bisa diprediksi, kembali lagi seperti tujuan utama aksi politis yang dilakukan,”

Bambang menjelaskan bahwa atas konflik yang terjadi di Papua terkait gangguan separatis sudah membuat ribuan orang terdampak. Mulai dari aksi pengungsian hingga jatuhnya korban jiwa tidak terhindarkan, sebab aksi separatisme di Papua tidak jarang juga menyasar kelompok-kelompok sipil.

“Kita sekarang lihat dampak yang ditimbulkan, bagaimana ribuan orang menjadi korban karena harus mengungsi. Belum lagi mereka yang harus meregang nyawa karena menjadi sasaran tindak kekerasan yang dilakukan kelompok separatis. Contohnya sudah banyak, mulai dari tukang bangunan, ojek, sampai tenaga keseahatan,”

0 komentar:

Posting Komentar