Minggu, 02 Januari 2022

Sebby Sambom: Perang Intan Jaya Belum Berakhir


Aksi provokasi dan ancaman bersenjata masih kembali terjadi di Distrik Sugapa, Ibukota Kabupaten Intan Jaya. Menurut Sebby Sambom sebagai Juru Bicara Kelompok Separatis, dirinya mengatakan aksi tersebut adalah sinyal seakan perang di Intan Jaya masih tetap berlangsung. (2/1)

“Aksi letupan-letupan senjata yang kami lakukan sebagai isyarat jika perang di Intan Jaya belum berakhir, dan justru masih terus berlangsung,”

Sebby menambahkan bahwa aksi yang dilakukan kelompok Undius Kogoya tersebut pertama kali dilakukan sejak pihaknya terdesak mundur oleh aparat keamanan TNI/Polri jelang perayaan natal dan tahun baru.

“Kemarin adalah aksi pertama di tahun ini, karena menjelang hari natal sebelumnya itu kami mundur. Aksi ini dipimpin oleh kelompok Undius Kogoya,”

Meski demikian pernyataan keras muncul dari salah seorang mahasiswa Papua asal Intan Jaya yang saat ini sedang menyelesaikan pendidikannya di satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Soni Belau mengatakan aksi separatisme tidak perlu dilakukan karena akan menjadi konflik panjang. (3/1)

“Saya anak asli Intan Jaya, saya lahir dan besar disana. Menurut saya aksi-aksi terkait separatisme jangan lagi terjadi, kami sebagai warga Intan Jaya tidak mau terjadi konflik berkepanjangan. Saya paling khawatir karena keluarga ada disana,”

Terkait aksi ancaman dan konflik bersenjata yang terjadi di Intan Jaya, Soni mengatakan hal tersebut hanya akan bahwa mengundang penderitaan rakyat.

“Alasan kuat menolak aksi separatisme karena hal seperti itu hanya akan mengundang penderitaan bagi rakyat. Saya tidak setuju dengan pernyataan-pernyataan jika perang itu dilakukan untuk membela hak orang Papua,”

Secara mengejutkan Soni bahkan mengungkapkan pemikirannya terkait adanya pengaruh dua generasi di Papua yang berbeda pola pikir sehingga mengiring konflik terjadi di tanah kelairannya.

“Ada dua generasi, sebut saja generasi yang cerdas dan generasi yang tidak mau cerdas. Saya katakana ‘tidak mau’ karena mereka sebenarnya bisa juga menjadi generasi yang cerdas. Kemudian orang-orang yang tidak mau cerdas inilah yang sampai detik ini hanya bisa berpikir tentang kekuasaan yang muaranya berujung pada aksi-aksi perlawanan dan separatisme,”

0 komentar:

Posting Komentar