Selasa, 15 Februari 2022

Anggota KNPB: MSN Tidak Bisa Diganti sebagai Aksi Kekerasan


Perjuangan pembebasan Papua dalam waktu ke waktu terus menemui berbagai aral rintangan. Berbagai agenda dan rencana aksi terkadang harus dikesampingkan untuk menyesuaikan dinamika yang terus berubah.

Salah seorang anggota KNPB Pusat menuturkan bahwa Mogok Sipil Nasional (MSN) sebagai agenda besar yang direncanakan organisasinya mencoba direkayasa oleh kelompok tertentu.

Sumber internal KNPB berinisial AH yang tidak mau disebutkan identitasnya dalam keterangan tersebut mengatakan jika MSN mencoba diarahkan menjadi aksi brutal.

"Beberapa waktu terakhir pembahasan tentang MSN memang cukup sering dilakukan. Hanya saja agenda itu sekarang sudah banyak direkayasa, termasuk upaya-upaya brutal dibahas disana," ungkap AH ditemui.

AH menambahkan sesuai ide MSN sejak pertama kali dicetuskan, seharusnya aksi tersebut adalah gambaran revolusi perjuangan yang bisa mengangkat nama besar orang Papua, sebab MSN adalah simbol kemandirian orang Papua.

"Kalau kita tarik waktu kebelakang, MSN itu dimaksudkan untuk membentuk kemandirian bangsa. Lepas semua ketergantungan dengan pihak asing, bukan sebagai aksi kriminal yang merusak," tambahnya.

Kekerasan dianggap AH sebagai aksi yang akan menimbulkan dampak buruk. Sebab penyelesaian konflik dengan cara kekerasan akan mengundang aksi kekerasan lain yang berkelanjutan.

"Kekerasan dan tindakan kriminal bukan bagian dari bangsa yang dewasa. Aksi itu tidak bisa terus dimaklumi, kekerasan akan memberi dampak buruk yang panjang. Kita lihat hambatan untuk Papua sekarang ini, semua bermuara pada aksi kekerasan," sambung AH.

AH sebagai salah seorang anggota KNPB Pusat merasa bahwa dirinya memiliki tanggung jawab lebih untuk membersamai KNPB sebagai organisasi yang terus menjunjung tinggi hak asasi manusia.

"Sesuai tujuan utama dibentuknya KNPB, salah satunya sebagai pembela atas perampasan hak dan nilai kemanusiaan. KNPB akan tetap menjadi organisasi yang menjunjung tinggi hak setiap manusia. Aksi kekerasan tidak pantas dipelihara di KNPB," tutup AH.

0 komentar:

Posting Komentar