Minggu, 06 Februari 2022

Kelompok Separatis Menolak Kesejahteraan bagi Papua


Aksi penolakan pemekaran wilayah di Papua bukan kali pertama terjadi. Dinamika dan realita yang sangat beragam di Bumi Cenderawasih mendorong setiap individu memiliki cara pandangnya masing-masing.

Namun menurut salah seorang tokoh senior Papua, Franz Korwa dalam keterangannya mengungkapkan bahwa aksi penolakan erat berkaitan dengan gerakan melawan pemerintah. Dirinya meyakini jika sumber penolakan bernagai agenda nasional adalah pengaruh eksistensi kelompok separatis. (6/2)

"Sebenarnya bukan hanya pemekaran wilayah yang ditolak, banyak agenda nasional yang mencoba dilawan, contohnya yang belum lama adalah PON. Itu semua kalau dicari sumbernya, pasti mengarah kepada kelompok separatis," ujarnya.

Korwa menjelaskan bahwa perbedaan pandangan segiap manusia adalah hal yang wajar, namun dirinya menegaskan jika perbedaan tersebut tidak boleh dijadikan hambatan untuk tujuan yang lebih baik.

"Setiap manusia memang punya hak, kita semua punya pemikiran yang bermacam-macam. Hanya saja perbedaan itu dijadikan alat untuk menghambat proses yang lebih baik. Kesejahteraan di Papua sekarang inilah yang menjadi konsentrasi pemerintah," ungkap Korwa.

Korwa menjelaskan bahwa pemekaran wilayah akan mempermudah banyak aspek yang berkaitan dengan pelayanan terhadap rakyat. Menurutnya upaya pemekaran akan menjanjikan kemajuan untuk Papua.

"Selama ini yang menjadi penghambat kemajuan adalah proses yang tidak singkat. Bukan hanya perkara birokrasi, ada banyak hal yang menghambat karena Papua ini wilayahnya sangat besar. Orang selalu dibuat kewalahan dengan kondisi yang terjadi," tambahnya.

Sebagai tokoh publik, Korwa yang tidak sepaham dengan aksi penolakan pemekaran wilayah mengungkapkan jika kelompok separatis sebagai sumber masalah di Papua dinilai merasa khawatir dengan kemajuan yang akan terjadi di Papua.

"Kalau Papua ini bisa maju, maka yang paling tidak suka adalah mereka (kelompok separatis). Sebab ideologi papua merdeka tidak akan lagi menarik hati rakyat Papua. Semua lebih memilih untuk sibuk dengan kerjaan demi kesejahteraan keluarganya masing-masing," ungkap Korwa.

Sehingga saat ini dinilai Franz Korwa bahwa kelompok separatis berupaya untuk terus menjadi oposisi buta bagi pemerintah Indonesia di Papua. Namun terkait hal tersebut, Korwa mengaku marah sebab rakyat Papua dijadikan tameng untuk memikul beban dan menyuarakan aspirasinya.

"Saya sangat menyayangkan bagaimana rakyat Papua dijadikan alat, yang lebih membuat saya sakit hati adalah rakyat itu tidak sadar kalau sedang dimanfaatkan. Sebab kelompok separatis itu selalu mencari cara, apapun jalannya," tutup Korwa.

0 komentar:

Posting Komentar