Selasa, 01 Februari 2022

Theo Hesegem Diintimidasi karena Luruskan Kabar Kunjungan Dewan HAM PBB


Aktivis Hak Asasi Manusia Theo Hesegem mendapat reaksi buruk berupa intimidasi dari sejumlah pihak pasca pernyataannya membantah kabar yang berasal dari ULMWP sebagai saah satu organisasi Papua merdeka terkait kehadiran Dewan HAM PBB ke Papua.

“Bukan hal baik yang saya dapatkan setelah memberikan pernyataan terkait kabar bohong yang disuarakan ULMWP. Saya mendapat intimidasi karena aksi itu,” ujar Theo melalui sambungna telepon. (2/2)

Theo mengaku kecewa dengan beberapa pihak termasuk salah seorang oknum pendeta yang berupaya memojokkannya, padahal menurutnya pernyataan yang disuarakan adalah fakta terkait mekanisme Dewan HAM PBB.

“Tentu saya kecewa dengan mereka, sebab pernyataan saya itu bukan asal-asalan. Saya bicara fakta, Dewan HAM PBB itu punya mekanisme khusus untuk bisa hadir di Papua, bukan semaunya sendiri, apalagi hanya karena ada permintaan dari sebuah organisasi,”ungkap Theo menjawab pernyataan sepihak yang dilontarkan Pdt. Dorman Wandikbo.

Sebagai seorang tokoh pembela HAM di Papua, Theo merasa ada tanggung jawab besar dalam menjalankan amanahnya, dirinya mengaku akan terus menjaga komitmen untuk mendukung hak setiap manusia yang ditindas oleh kepentingan.

“Saya seorang pembela HAM, manusia itu bukan cuma saya saja atau kamu saja. Kita semua adalah manusia yang punya hak. Bersama dengan yayasan yang saya miliki, saya punya komitme untuk mendukung setiap hak manusia tanpa melihat latar belakang ataupun kepentingannya,” ujar Theo Hesegem yang juga merupakan Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (Pembela HAM Sedunia).

Theo menambahkan dalam penuturannya bahwa Dorman Wandikbo seharusnya bisa berkaca atas gelar sebagai seorang pendeta yang telah disandingnya. Menurut Theo, selaku wakil Allah seharusnya Dorman berbicara tentang kebenaran, dan tidak menyimpan kebohongan yang lama dibangun oleh ULMWP.

“Saya tidak bicara soal perjuangan Papua merdeka, tetapi saya tidak ingin rakyat Papua selalu dijadikan korban kebohongan dan pembodohan. Ini kaitannya dengan hak asasi manusia. Seharusnya Dorman juga punya rasa malu karena dia adalah seorang pendeta, bukan hal baik jika yang keluar dari mulutnya kebohongan,” sambung Theo.

0 komentar:

Posting Komentar