Jumat, 04 Maret 2022

Bungkam atas Pembantaian, Aktivis HAM Papua Dianggap Rasialis dan Diskriminatif


Percepatan pembangunan dan kemajuan demi kesejahteraan masyarakat di Papua masih terus terhambat seiring ancaman keberadaan kelompok separatis.

Sebelumnya (2/3) terjadi aksi pembantaian sadis terhadap 8 orang karyawan Telkom yang bertugas membangun dan mengawasi menara Palapa Ring Timur untuk mendukung kelancaran komunikasi di Papua.

Akademisi Papua, Marinus Yaung dalam tanggapannya terkait peristiwa tersebut justru mengkritisi sejumlah pegiat hak asasi manusia (HAM) di Papua yang dinilai bungkam.

"Dimana suara para aktivis kemanusiaan dan HAM di Papua. Suara mereka hilang ditelan bumi," ungkap Marinus dalam keterangannya. (4/3)

Marinus juga menggambarkan kabar isu kemanusiaan di Papua yang ramai dalam beberapa waktu terakhir. Hal tersebut terkait rencana kedatangan Dewan HAM PBB yang disuarakan secara vokal oleh berbagai kelompok terutama yang mengatas namakan dukungan terhadap orang Papua.

"Menjadi catatan tersendiri, sebelumnya isu kemanusiaan terkait penindasan terhadap orang Papua ramai dibicarakan oleh para aktivis pegiat HAM. Tetapi hal itu berbeda dengan kejadian yang dialami 8 pekerja,, tidak ada pernyataan ataupun kecaman terkait kejadian ini" ujarnya.

Marinus bahkan menilai jika aktivis HAM di Papua yang memilih diam atas pembantaian sebelumnya disebabkan karena perpektif rasialis dan diskriminatif.

"HAM itu milik semua orang, bukan hanya kepada orang Papua namun juga kepada masyarakat non Papua. Asumsi saya tentang pegiat HAM yang tidak bersuara karena mereka hanya memiliki definisi HAM yang rasialis dan diskriminatif," lanjutnya.

Marinus menegaskan jika seharusnya seorang aktivis HAM harus bisa membela kemanusiaan dengan perspektif keadilan dan kebenaran.

"Membela kemanusiaan tidak akan bisa dilakukan jika ada unsur kepentingan disana. Dengan bungkamnya aktivis HAM di Papua hal ini memberi penilaian sendiri bagi saya jika mereka adalah aktor dominan yang memelihara konflik di Papua," tambahnya.

0 komentar:

Posting Komentar