Sabtu, 26 Maret 2022

Egianus Kogoya, “Daftar Hitam” Pelaku Pelanggaran HAM di Papua


Sejumlah pihak menyesalkan aksi penyerangan Kelompok Separatis terhadap aparat keamanan di Kabupaten Kenyam, Nduga, Papua. Dalam penyerangan tersebut diklaim bahwa seorang prajurit tewas dan sepuluh lainnya luka-luka. (27/3)

Kabar tersebut mengiring pernyataan Ahmad Taufan Damanik selaku Ketua Komnas HAM RI yang sebelumnya sudah meminta kepada pihak-pihak yang bertikai untuk dapat melakukan gencatan senjata guna menghindari masalah yang berkepanjangan. Diketahui bahwa Komnas HAM tengah menyelidiki dan mengupayakan penyelesaiaan konflik di Papua.

"Misinya yang pertama adalah mencegah terulangnya kekerasan. Kalau ketemu saya akan bicara dengan semua pihak, bisa enggak menghentikan pendekatan senjata ini, dan kita masuk dalam pendekatan dialog," dikutip Suara. (23/3)

Menurt Tokoh masyarakat Distrik Kenyam dalam keterangannya menanggapi aksi penyerangan terhadap Satgas Mupe Marnir-3 menyebutkan bahwa pihaknya tidak pernah merasa simpatik dengan gerakan-gerakan yang dilakukan oleh kelompok separatis. Dirinya justru merasa marah sebab aksi tersebut hanya akan mengundang konflik yang akan terjadi di Nduga.

“Kalau kelompok itu mengaku sedang membela hak orang Papua, maka orang Papua mana yang sedang dibela? Saya sendiri tidak pernah merasa terwakilkan, yang saya mau adalah kedamaian. Sebab kalau hal seperti ini masih terjadi, maka Nduga tidak akan bisa tenang,” ujar Nelson Gwijangge.

Nelson juga mengatakan bahwa aksi penyerangan yang dilakukan Egianus Kogoya adalah sebuah pelanggarean HAM. Kelompok separatis, menurut Nelson, adalah pihak-pihak yang tidak pernah mau memahami hukum humaniter dan hak asasi manusia.

“Kalau dibilang siapa pelaku pelanggaran HAM, saya pastikan bahwa mereka adalah kelompok Egianus Kogoya. Kelompok ini sudah melegalkan segala macam cara untuk melakukan penyerangan, membunuh, dan membuat kekacauan di Nduga,” ungkapnya.

Nelson menjelaskan bahwa kelompok Egianus Kogoya dikenal sebagai kelompok yang tidak pernah bisa memahami kondisi dalam kehidupan masyarakat di Kabupaten Nduga. Kelompok tersebut dikatakan oleh Nelson sebagai pihak yang keras kepala.

“Masyarakat di Nduga sendiri sudah tidak mau dengar lagi nama dia (Egianus Kogoya), karena setiap aksi-aksi yang dilakukan pasti kami sebagai masyarakat asli yang akan menanggung resikonya. kami tidak mau lagi mengungsi, yang kami mau adalah bentuk perhatian demi kesejahteraan,” tambahnya.

Dalam catatan, Kelompok Egianus Kogoya diketahui telah berulang kali melakukan aksi penyerangan bersenjata yang dapat dikategorikan sebagai bentuk pelanggaran HAM. Egianus Kogoya pernah kedapatan menembak pilot pesawat perintis di Bandara Kenyam, menyerang rombongan Bupati Yairus Gwijangge di Mapenduma, hingga kasus kelam pembantaian 31 orang pekerja jembatan di Kali Yogi.

0 komentar:

Posting Komentar