Kamis, 24 Maret 2022

Egoisme Benny Wenda Hancurkan Dukungan Internasional untuk Papua


Kabar terkait desakan dunia Internasional mendorong referendum bagi Papua mulai terungkap pasca Rafael Ramirez sebagai Ketua Komite Dekolonisasi PBB angkat suara. Rafael menyebutkan bahwa kabar tersebut keliru sebab pembahasan terkait Papua tidak pernah terjadi.

"Kami memiliki agenda yang sudah ditetapkan sebagai pedoman, dan Papua tidak termasuk didalamnya. Kabar tentang Papua sampai sekarang tidak pernah menjadi bahasan dalam komite," ungkap Rafael Ramirez.

Rafael juga mengatakan bahwa kabar 1,8 juta petisi mendukung referendum bagi Papua tidak pernah sampai dihadapannya. Hal tersebut terasa rancu sebab berbanding terbalik dengan klaim Benny Wenda dan ULMWP yang mengatakan jika petisi tersebut berhasil diserahkan pada otoritas di PBB.

"Banyak pihak yang mencoba mengatas namakan saya untuk kepentingan propaganda. Harus sama-sama kita cermati, karena kami pun tidak pernah menerima petisi terkait Papua," tambahnya.

Terkait klaim Benny Wenda dan ULMWP atas 1,8 juta petisi rakyat Papua sebelumnya, menurut salah seorang akademisi hal tersebut adalah tindakan percuma. Marinus Yaung dalam keterangannya justru menyebut Benny Wenda sendiri yang telah menghempas harapan referendum bagi Papua.

"Boleh saja klaim 1,8 juta petisi, tapi yang terjadi saat ini sangat berbeda. Saya melihat tidak ada pergerakan dari internasional untuk mendukung Papua. Kalau memang kabar itu bohong maka Benny Wenda sendiri yang sudah menghancurkan harapan memerdekakan Papua," ungkap Marinus. (24/3)

Namun Marinus tidak menampik bahwa isu Papua sempat menjadi bahasan bagi negara-negara di kawasan Afrika. Hanya saja Benny Wenda sebagai front-man telah sengaja mengabaikan nasehat dan rekomendasi dalam forum tersebut. Benny yang merasa superior karena berpandangan sukuisme akhirnya menghempaskan harapan sesungguhnya bagi Papua. 

"Benny punya ego yang besar, merasa diri hebat karena berpandangan sukuisme. Akhirnya aksi seorang diri Benny Wenda mulai mengubah cara pandang dunia internasional, Benny dianggap punya kepentingan lain terkait kekuasaannya di Papua,"

"Justru angin segar didapat oleh pemerintah sekarang ini. Mereka yang tidak lagi percaya pada Benny Wenda telah menaruh harapan bagi pemerintahan Presiden Jokowi untuk mendongkrak kemajuan bagi Papua," terang Marinus.

Marinus Yaung dalam keterangannya terkait polemik dukungan internasional, menegaskan upaya yang dibawa Benny Wenda dan ULMWP tidak akan pernah berdampak bagi kehidupan rakyat Papua. Sehingga dirinya tegas menolak narasi-narasi yang dimaksudkan untuk menjauhkan kedamaian, ketenteraman, dan kesejukan di Papua.

0 komentar:

Posting Komentar