Kamis, 31 Maret 2022

Mahasiswa Dimanfaatkan Elit Politik Papua Untuk Kacaukan Situasi


Aksi unjuk rasa penolakan Daerah Otonomi Baru (DOB) oleh mahasiswa rawan dimanfaatkan untuk mengguncang situasi keamanan di Papua. Sebab diketahui bahwa DOB menjadi salah satu dari sejumlah tuntutan yang kerap disuarakan oleh kelompok pro-separatisme. (1/4)

Hal tersebut terbukti ketika aksi demo yang digelar di Kabupaten Nabire berakhir ricuh. Dalam peristiwa tersebut diketahui bahwa lima orang anggota polisi dan dua orang warga sipil menjadi korban amuk massa.

“Tidak bisa dipungkiri kalau mahasiswa hanya dimanfaatkan untuk kepentingan elit politik di Papua. mereka (elit politik) punya kepentingan lain di atas kepentingan negara. Terjadinya aksi unjuk rasa apalagi sampai harus kacau, itu sangat disayangkan,” ungkap tokoh Papua, Franz Korwa.

“Bahkan 5 orang polisi dan 2 orang warga sipil yang tidak tahu masalah sampai menjadi korban. Apa alasan mereka sampai harus mengeroyok 2 orang masyarakat. Aksi seperti ini memang rawan sekali dengan tindakan kekerasan,” tambahnya.

Sebagai seorang tokoh, Korwa menyebutkan bahwa dirinya tidak tidak pernah merasa simpatik dengan aksi yang dilakukan oleh mahasiswa. Korwa yang juga merupakan orang Papua bahkan mengaku tidak terwakili dengan aspirasi yang disuarakan oleh mahasiswa.

“Saya ini juga orang Papua, saya tegas katakan kalau kami tidak pernah mau tau dengan tuntutan dari mahasiswa yang punya latar belakang kepentingan dari elit politik. Kalau mahasiswa klaim itu suara rakyat, bahkan kami sendiri tidak merasa untuk diwakili,” tambahnya.

Terkait demo anarkis yang dilakukan sejumlah simpatisan gerakan pro-separatisme di Kabupaten Nabire, Kapolda Papua Irjen Mathius Fakhiri menyebutkan bahwa bentrok dipicu penyerangan dari salah satu massa aksi yang ingin melukai petugas.

“Namun beberapa oknum pendemo ada yang hendak melakukan penikaman terhadap seorang anggota polisi yang tengah melakukan negosiasi dengan massa,” ujar Kapolda dalam keterangannya.

0 komentar:

Posting Komentar