Minggu, 06 Maret 2022

Masyarakat Jayapura Khawatir Kerusuhan 2019 Terulang


Aksi unjuk rasa turun ke jalan masih menjadi mimpi buruk yang sukar dihilangkan, mengingat peristiwa kerusuhan yang terjadi pada tahun 2019 telah menggoreskan luka dan ketakutan bagi masyarakat di Kota Jayapura. 

"Aksi semacam itu masih belum menarik simpatik kami, justru kami masih menaruh kekhawatiran jika aksi demo kembali terjadi. Saya merasakan bagaimana rasa takut yang masih dialami masyarakat di Jayapura," ungkap Junaedi Rahim, salah seorang tokoh paguyuban di Kota Jayapura. (7/3)

Dirinya mengaku tidak setuju atas penyampaian aspirasi yang harus dilakukan dengan cara long march. Sebab menurutnya kegiatan tersebut akan dengan mudah mengundang provokator yang menyulut aksi anarkisme. 

"Kami antisipasi hal-hal seperti itu, apalagi harus dilakukan dengan cara turun ke jalan, melakukan long march dari titik-titik kumpul yang cukup jauh. Bukan tanpa alasan, hanya saja aksi yang direncanakan akan sangat mudah disusupi provokator, akhirnya kembali terjadi anarkisme," tambahnya.

Terlebih, menurutnya, muatan aspirasi yang akan disuarakan mahasiswa tersebut berkaitan dengan penolakan kebijakan pemerintah. Dirinya mengatakan jika opsi pemekaran wilayah di Papua telah mengerucut dan hanya disuarakan oleh kelompok-kelompok anti pemerintah.

"Pemekaran itu sudah jauh-jauh hari ditolak oleh kelompok anti pemerintah, hanya saja saat ini mencoba disuarakan lewat mahasiswa," tambahnya.

Meski demikian pihaknya tetap menghargai pendapat serta pemikiran lain sebagai hak setiap orang/kelompok, namun dirinya meminta agar peristiwa kerusuhan tahun 2019 tidak terulang kembali.

"Kami serahkan seluruh pelaksanaannya kepada Kepolisian, karena mereka yang punya otoritas. Hanya kerusuhan tahun 2019 tidak akan membuat kami diam begitu saja. Intinya jangan ada kerusuhan terjadi," pungkasnya.

0 komentar:

Posting Komentar