Jumat, 15 April 2022

8 Pengibar Bintang Kejora Kotori Semangat Perjuangan


Munculnya desakan terhadap aparat keamanan oleh sejumlah pihak yang mengupayakan pembebasan 8 orang tersangka kasus makar (pengibarat atribut bintang kejora) di GOR Cenderawasih pada 1 Desember 2021 adalah tindakan yang melecehkan semangat perjuangan.

Nelson Mandela, Soekarno, Xanana Gusmao, mereka adalah contoh pejuang sejati. Seluruh pejuang kemerdekaan diantero belahan dunia secara sadar telah memahami dengan mutlak bahwa jalan yang mereka pilih untuk menentang, memperjuangkan hak, atau melawan penjajah penuh dengan resiko dan ancaman. Sehingga tidak pernah terbesit dipikiran mereka untuk berhenti berjuang meski harus rela dipenjara dan diasingkan.

Apa yang dialami oleh 8 orang tersangka pengibaran bintang kejora seharusnya juga demikian, mereka semestinya sudah mengetahui konsekuensi seperti apa yang akan diterima jika aksinya tetap digelar. Sehingga tidak pernah muncul istilah “merengek dalam penjara”. Terlebih lokasi kedelapan orang dalam melakukan aksi dititikkan pada halaman GOR Cenderawasih, tepat bersebelahan dengan Markas Kepolisian Daerah.

Tindakan yang dilakukan 8 orang tersangkat berkaitan erat dengan pelaksanaan hukum/undang-undang. Makna hukum dimaksudkan untuk membatasi setiap orang untuk bertindak diluar kaidah dan norma, sehingga tercipta kondisi yang tenteram bagi masyarakat. Aksi pengibaran bintang kejora adalah contoh pelanggaran hukum dan perbuatan menentang kedaulatan negara, sehingga sudah sepatutnya para pelaku mendapat hukuman sebagai bentuk pertanggung jawaban atas perbuatannya.

Jangan memanfaatkan celah hukum untuk keuntungan sepihak.

Hukum di Indonesia secara luas juga mengatur segala kemungkinan terkecil, namun sayangnya hal tersebut rawan dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok utamanya mereka yang dapat disimpulkan sebagai pelaku/pelanggar hukum. Dengan segala upaya, para pelaku termasuk simpatisan/pendukung cenderung mencari celah sekecil apapun untuk membenarkan aksi dan bisa mengurangi beban bahkan lolos dari jerat hukuman.

Nama Zode Hilapon santer dikabarkan menderita penyakit kronis sejak ditangkap aparat Kepolisian pasca aksinya mengibarkan bintang kejora. Terhitung sejak awal tahun 2022 desakan terhadap aparat untuk memberi hak terhadap Zode Hilapon terus digaungkan oleh kelompok-kelompok prokemerdekaan. Tuntutan agar negara memberi kesempatan terhadap Zode Hilapok ramai dikaitkan dengan kondisi kesehatannya yang dikabarkan terus memburuk.

“Sudah tahu sakit, lebih baik diam di rumah dan tidak banyak tingkah. Apalagi sampai berani melakukan kejahatan (makar)” terlintas kalimat keras sebagai tanggapan atas kasus yang ramai dibicarakan. Memberi keleluasaan terhadap pelaku kejahatan atas dasar kesehatan diduga menjadi tren dikalangan kelompok separatis untuk mengendurkan proses hukum, sebab setahun sebelumnya nama kondang Victor Yeimo yang merupakan otak kerusuhan 2019 sempat melakukan hal serupa. Bahkan masih berlangsung hingga saat ini.

Perjuangan tidak pernah menjamin kemudahan, perjuangan harus merelakan keringat, tenaga, darah, bahkan nyawa sekalipun. Kelompok-kelompok separatis yang berafiliasi dengan gerakan politik seharusnya memiliki rasa malu kepada para pasukan pembebasan yang masih teguh menapakkan kakinya di belantara hutan Papua. “Jangan melecehkan semangat perjuangan”.

Semarang, 15 April 2022.
(Benny Yigibalom, Mahasiswa Papua di Kota Studi Semarang)

0 komentar:

Posting Komentar