Kamis, 07 April 2022

Buka Mata Soal Pelanggaran HAM yang Masih Terjadi di Papua


Aksi pembakaran belasan unit rumah dan ancaman teror terhadap warga sipil di Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak disebutkan sebagai salah satu aksi pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Tokoh senior papua dalam keterangannya kembali mempertanyakan peran para pegiat HAM dan setiap aliansi organisasi kemanusiaan di Papua. Sebab disebutkan tidak ada pernyataan serius yang menekan kebiadaban kelompok separatis atas peristiwa di Puncak. (8/4)

"Bukan perkara ringan, sudah nyata-nyata ada pembakaran pemukiman dan penyerangan terhadap warga setempat. Tapi sampai detik ini lagi-lagi tidak ada tanggapan serius dari para pegiat HAM Papua," ungkap Franz Korwa.

Korwa bahkan menyebutkan nama-nama terang seperti Theo Hesegem, Natalius Pigai, Fritz Ramandey atau Socratez Yoman yang dinilai kerap mencampur adukkan urusan agama demi eksistensi kelompok separatis. Dalam alasannya Korwa menilai bahwa keempatnya tokoh tersebut dianggap paling frontal soal HAM di papua.

"Theo, Natalius Pigai, Fritz, dan pendeta Yoman, mereka punya nama besar karena sering membela hak asasi manusia Papua. Apalagi pendeta Yoman, dia harusnya paling paham karena dia memang pintar sekali mengambil narasi-narasi agama untuk dibenturkan dengan kondisi yang terjadi," tuturnya.

Sebelumnya akademisi Papua, Marinus Yaung juga pernah mengatakan bahwa upaya pembelaan terhadap HAM di papua masih rasialis dan diskriminatif. Hal tersebut diungkapkannya kala merespon aksi pembantaian 8 pekerja jaringan (2/3/2022) yang juga dilakukan oleh kelompok separatis.

"Dimana suara para pegiat ham, mereka diam ditelan bumi. Korban ada manusia yang dibantai secara keji. Asumsi saya, mereka hanya memiliki definisi HAM yang sangat rasialis dan diskriminatif," pungkasnya.

0 komentar:

Posting Komentar