Kamis, 21 April 2022

Egianus Kogoya Pentolan Kelompok Separatis Nduga yang Keji dan Biadab


Aksi separatisme di Papua tak hanya terkenal keji dan biadab, kelompok-kelompok separatis di pedalaman hutan Papua tersebut juga diketahui kerap melakukan perekrutan terhadap anak-anak usia belia untuk direkrut menjadi pasukannya.

Menurut salah seorang pakar terorisme, hal tersebut dinilai sebagai upaya yang harus menjadi perhatian dari sejumlah pihak. Menurutnya doktrinisasi yang dilakukan kelompok separatis akan merenggut masa depan generasi penerus di Papua.

“Ada kecenderungan kalau kelompok separatis aktif melakukan perekrutan kepada anak-anak disana. Dengan kedekatan yang dilatar belakangi suku, hal tersebut menjadi semakin besar peluangnya.

Harus ada penangan yang benar-benar dipikirkan oleh pihak yang berwenang, dalami kasus seperti ini. Sebab yang dipertaruhkan adalah masa depan dari generasi penerus,” ungkap Stanislaus Riyanta. (20/4)

Riyanta menambahkan bahwa Egianus Kogoya merupakan salah seorang pentolan kelompok seaparatis di wilayah kabupaten Nduga yang masih bisa dikategorikan berusia muda. Namun dibalik usianya yang masih muda, aksi biadab dan keji sudah kerap dilakukan bersama kelompoknya.

“Catatan selama ini aksi yang terjadi di Kabupaten Nduga selalu menyangkut Egianus Kogoya, dan yang jadi permasalahan adalah korbannya selalu diperlakukan dengan keji, apalagi mereka banyak dari kalangan sipil,” ungkapnya.

Riyanta menyebutkan aksi penyerangan terhadap maskapai penerbangan di Bandara Kenyam, Nduga, adalah salah satu contohnya. Dirinya menambahkan bahkan aksi kekerasan terhadap guru, pekerja jembatan, dan pedagang kios juga sudah menjadikan nama Egianus Kogoya dalam daftar hitam.

“Penembakan pesawat dari ujung banda, pemerkosaan terhadap guru, pembunuhan terhadap pedagang, yang paling sadih adalah aksi pembantaian terhadap pekerja PT Istaka Karya,” tambahnya.

Meski demikian, Riyanta sebelumnya juga menjelaskan tentang kabar sejumlah kelompok yang memilih kembali pada NKRI tetap menjadi sebuah nilai positif. Hal tersebut dikatakannya mengingat sejumlah kelompok tersebut menyadari bahwa pihaknya termakan propaganda kelompok separatis dan hanya dimanfaatkan untuk sesuatu yang tidak tepat.

"Masyarakat banyak yang menjadi korban dari propaganda kelompok separatis, beruntung mereka masih bisa sadar kalau keikutsertaannya hanya untuk dimanfaatkan,” kata Riyanta.

0 komentar:

Posting Komentar