Senin, 25 April 2022

Tersangka Kasus Makar Zode Hilapok Dikabarkan Sakit


Otoritas penegak hukum di Papua dianggap harus mulai memahami aksi sepihak kelompok separatis pembebasan Papua yang terafiliasi dengan gerakan politik, hal tersebut diungkapkan salah seorang tokoh senior Papua menanggapi desakan terhadap delapan orang tersangka kasus makar.

“Sekarang harus sama-sama kita pahami, upaya perlawanan terhadap negara itu tetap muncul meskipun pihak-pihak yang terlibat sudah sampai diproses bahkan masuk dalam sel tahanan. Segala upaya akan terus dilakukan untuk membebaskan sesama mereka,” ungkap Franz Korwa dalam keterangannya. (25/4)

Terkait kasus delapan orang tersangka kasus makar tersebut, Korwa meminta kepada Kejaksaan Tinggi Papua untuk tidak mudah terpengaruh atas kabar permohonan pemeriksaan kesehatan terhadap salah satu tersangka atas nama Zode Hilapok. Dikatakannya bahwa aksi tersebut sebagai upaya untuk menghindar dari hukuman.

“Artinya harus selektif juga, pahami dengan betul apakah semua itu benar atau hanya rekayasa untuk menghindar dari hukuman. Karena kabar kalau ada salah satu tersangka yang sakiit kritis itu sudah muncul dari pertama kali mereka ditahan,” ungkapnya.

Korwa juga menjelaskan bahwa kasus tersangka yang dikabarkan tiba-tiba mengalami sakit menjadi hal yang sering terjadi dalam proses hukum. Dirinya menilai jika hal tersebut dianggap sebagai siasat untuk mencari keringanan bahkan menghindar dari proses hukum. Korwa menjelaskan bahwa kasus tersebut mirip dengan yang dialami Victor Yeimo sebagai Juru Bicara Internasional organisasi separatis KNPB.

“Kita bisa lihat sudah berapa kasus makar/separatisme yang akhirnya muncul desakan-desakan kepada aparat karena tersangkanya sakit. Bahkan dilakukan juga oleh Victor Yeimo kemarin, tidak jelas sakit atau tidak yang pasti mereka sedang cari keringanan,” tambahnya.

Dalam keterangannya Korwa menegaskan jika hukum harus selalu ditegakkan demi keadilan. Dirinya menilai jika hukum berhasil ditegakkan maka akan tercipta situasi yang kondusif serta aman dari segala bentuk ancaman gangguan yang dilakukan kelompok separatisme.

“Hukum dimaksudkan untuk membatasi setiap orang agar bisa bersama-sama memlihara situasi yang kondusif. Sehingga kasus itu jangan dipermainkan, jalankan sesuai prosedurnya, putuskan sesuai hukum yang berlaku. Semua demi Papua, demi masa depan generasi kita,” tutup Korwa.

0 komentar:

Posting Komentar