Minggu, 29 Mei 2022

Teror dan Ancaman Kelompok Separatis di Kota Wamena “Harus Ada Penanganan Serius”


Kelompok Separatis Papua kembali memberikan sinyal ancanam untuk membuat kekacauan di wilayah perkotaan. Disebutkan bahwa ancaman teror tersebut ditujukan ke Kota Wamena di Kabupaten Jayawijaya. Teror tersebut diketahui disampaikan oleh Purom Wenda sebagai salah satu tokoh separatis yang paling berpengaruh di wilayah Pegunungan Tengah Papua. (29/5)

“Kami tantara pembebasan, hari ini kami ada di hutan rimba, di belantara hutan, di goa. Tapi kami juga bisa turun ke kota untuk melakukan operasi, memoerjuangkan hak orang Papua. kami siap berkorban jiwa,” ungkap Purom.

Menurut salah satu tokoh masyarakat wilayah adat Lapago, Herman Doga, dirinya menilai bahwa ancaman yang dilakukan kelompok separatis masih berkaitan dengan dinamika perencanaan pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) atau pemekaran provinsi. (30/5)

“Sepertinya Purom tidak suka dengan adanya rencana pemekaran, sebenarnya hal itu sangat wajar karena semua orang punya pendapat. Namun reaksi yang ditimbulkan sangat tidak tepat, ancaman dan teror tidak boleh dilakukan,” ujarnya.

Herman Doga menyebutkan bahwa pemekaran wilayah menupakan salah satu kesepakatan yang telah menjadi keputusan banyak pihak, termasuk oleh Lembaga Masyarakat Adat. Terlebih pemekaran wilayah disebut menjadi solusi untuk membawa kesejahteraan bagi Papua.

“Kalau sudah menjadi kesepakatan Bersama lalu ada pihak-pihak yang tidak setuju dan malah melawan itu artinya mereka sudah salah. Pemekaran yang sudah direncanakan dan mau dibentuk ini untuk membawa kesejahteraan bagi orang Papua,” tambahnya.

Potenci ancaman dan teror yang dilakukan kelompok separatis sebelumnya bahkan semakin nyata ketika pada Senin (30/5) dini hari telah terjadi pengibaran atribut bintang kejora di areal pasar Sinakma. Terkait hal tersebut, Herman Doga meminta kepada aparat keamanan untuk dapat menjaga situasi tetap kondusif.

“Tadi pagi saya dengar ada bintang kejora yang sengaja dinaikkan di sekitar pasar, mereka sudah memberi sinyal ancaman. Kami berharap jajaran TNI dan Polisi bisa berbuat banyak untuk terus menjaga kedamaian di tanah Baliem,” ungkat Herman Doga.

Disebutkan bahwa peristiwa kerusuhan yang terjadi pada tahun 2019 di Kota Wamena sudah cukup membawa luka yang dalam bagi masyarakat. Seperti diketahui aksi kerusuhan akibat pengaruh yang dilatar belakangi oleh gerakan separatisme.

“Jadikan peristiwa hitam tahun 2019 menjadi yang terakhir kalinya, jangan lagi kita dibuat menangis karena ulah beberapa pihak yang tidak beranggung jawab,” tutup Herman Doga.

0 komentar:

Posting Komentar