Senin, 27 Juni 2022

Kolonialisme di Papua Nyata, Orang Papua “Habis” Dimanfaatkan


Proses kemajuan bagi Papua tidak serta-merta dapat terealisasi dengan lancar, bagi kelompok-kelompok yang terafiliasi dengan gerakan separatisme sudah tentu hal tersebut justru dianggap sebagai ancaman. Sehingga pernyataan terkait penolakan atas pemekaran tidak bisa terelakkan, sejumlah tokoh separatisme seolah berlomba-lomba untuk menyuarakan penolakan atas program pemekaran tersebut. 

Menurut salah seorang tokoh masyarakat Suku Marind, Darius Gebze, setiap bentuk perubahan yang muaranya untuk kesejahteraan rakyat sudah pasti mendapat penolakan dari pihak-pihak tertentu. Dirinya menduga bahwa ada kekhawatiran kelompok anti pemerintah jika kesejahteraan telah mampu mengubah pola hidup orang Papua. (28/6)

“Bukan hanya otsus dan pemekaran, semua program yang dijalankan oleh pemerintah untuk mengangkat kesejahteraan orang Papua pasti ada pihak yang tidak suka, kita bisa pelajari pasti mereka itu orang-orang yang punya kedekatan dengan gerakan separatisme atau semacamnya,” ungkap Darius.

Darius menjelaskan bahwa kekuatan utama dari gerakan separatisme di Papua bukan pada keberhasilan strategi gerilya, ataupun giatnya proses lobi internasional, melainkan ada pada tingkat ketidaktahuan rakyat Papua yang terus-menerus dimanfaatkan.

“Mengapa pergerakan separatisme ini tidak pernah habis, itu karena rakyat Papua masih bisa dimanfaatkan, sayangnya mereka yang dimanfaatkan itu sedang tidak sadar. Jadi bukan karena strategi gerilya yang dilakukan di hutan-hutan ataupun cara melobi sampai ke luar negeri,” tambahnya.

Menurut Darius, pemekaran adalah salah satu upaya pemerintah yang dianggapnya mampu meningkatkan taraf hidup orang Papua, hal tersebut disebut sangat efektif karena pemekaran akan memperpendek rentang kendali pemerintah terhadap rakyatnya sehingga proses pembangunan dapat terfokus dan dipercepat.

“rakyat akan semakin aktif karena mulai fokus pada ruang-ruang yang disediakan oleh pemerintah daerah masing-masing nantinya. Kami yang di Papua Selatan akan fokus membangun Papua Selatan, begitu juga yang di Papua Tengah ataupun Papua Pegunungan Tengah. Artinya pemekaran adalah program yang sangat tepat,” kata Darius.

Darius Gebze dalam keterangannya menegaskan bahwa aksi penolakan yang dilakukan segelintir kelompok hanya akan menjadi penghambat kesejahteraan orang Papua. Dirinya menduga bahwa segelintir kelompok yang tidak bertanggung jawab tersebut berwatak kolonialis karena memiliki kepentingan demi keuntungan namun dengan cara mengorbankan keterbelakangan yang dialami orang Papua.

“Kolonialisme di Papua itu nyata diperlihatkan oleh kelompok-kelompok elitnya. Mereka ini pelaku kejahatan yang sesungguhnya, mereka memanfaatkan keterbelakangan yang dialami orang Papua untuk mencari keuntungan. Mereka sudah merasa nyaman karena bergelimang harta dan tidak ambil pusing dengan apa yang orang Papua rasakan,” pungkas Darius.

0 komentar:

Posting Komentar