Minggu, 05 Juni 2022

Rusak Lambang Negara, Ketua KNPB Baliem Harus Dihukum


Aksi demo menolak pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) atau pemekaran provinsi di Kota Wamena kembali rusuh. Aksi pengrusakan lambang negara telah dilakukan sejumlah massa aksi yang merupakan anggota KNPB. 

Sebagai salah satu organisasi terlarang di Papua yang kerap menentang kehadiran negara, KNPB dikenal kerap menyulut konflik lewat aksi-aksinya. Pernyataan tersebut disampaikan oleh tokoh masyarakat Kabupaten Jayawijaya, Hengky Heselo. (6/6)

“KNPB itu organisasi yang selalu mendatangkan permusuhan dan kekacauan. Aksi merusak lambang negara harus ditindak dengan tegas, (bendera) Merah-Putih itu sudah diperjuangkan oleh para pendahulu kita, tidak boleh dirusak,” ungkap Hengky Heselo.

Menurut Hengky Heselo aksi anarkis seperti yang telah dilakukan oleh KNPB tidak boleh kembali terulang. Sehingga dirinya mendorong Polres Jayawijaya untuk melakukan penindakan terhadap pelaku dan koordinator para aksi.

“Supaya tidak lagi terulang, harus ada tindakan yang tegas dari aparat. Mereka yang sudah sengaja merusak lambang negara itu harus diadili. Tangkap juga mereka yang menjadi koordinator dalam aksi anarkis,” tambahnya.

Disebutkan oleh Hengky Heselo bahwa pihak pelaku yang paling bertanggung jawab atas aksi anarkisme di Kanbtor DPRD Jayawijaya sebelumnya adalah ketua Mardi Hiluka sebagai Ketua KNPB Baliem dan Namene Elopere sebagai jubir. Keduanya disebutkan harus bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya di pengadilan.

“Tidak cukup dengan minta maaf, aksi yang dilakukan sudah diluar batas. Ada 2 nama yang paling bertanggung jawab, Ketua KNPB Baliem dan juru bicaranya. Mereka berdua sudah merencanakan aksi,” kata Hengky Heselo.

Nama seorang Mardi Hiluka diketahui sudah kerap melakukan upaya provokasi dan penggalangan massa dalam jumlah yang besar, kasus kerusuhan di Kota Wamena pada tahun 2019 lalu diketahui juga tidak terlepas dari perannya.

0 komentar:

Posting Komentar