Senin, 11 Juli 2022

PRP Pelihara Konflik di Papua Lewat Kepentingan Tolak DOB


Polemik penolakan pemekaran atau Daerah Otonomi Baru (DOB) yang disuarakan oleh organisasi Petisi Rakyat Papua (PRP) mendapat pertentangan dari kelompok pemuda Pegunungan Tengah Papua. Hal tersebut lantaran pemekaran sebagai aspirasi rakyat Papua untuk menjemput kesejahteraan justru mencoba digagalkan oleh PRP.

“Datangnya konflik itu dari PRP, mereka mencoba menolak pemekaran. Padahal orang-orang Papua khususnya yang berada di pegunungan itu sangat menginginkan kesejahteraan. karena sudah puluhan tahun kehidupan disana tidak pernah berkembang,” ujar Nelson Tabuni, di Jayapura. (12/7)

Nelson mengungkapkan pandangannya mengenai aksi yang dilakukan oleh PRP hanya akan mengundang konflik di Papua. Sedangkan dirinya berpendapat bahwa tujuan pemekaran di Papua untuk menuntaskan segala bentuk permasalahan yang diakibatkan rendahnya tingkat kesejahteraan.

“Sekarang pemerintah sudah pikirkan bagaimana membuat Papua semakin damai, karena beberapa kasus memang konflik yang terjadi di Papua diakibatkan karena rendahnya tingkat kesejahteraan. Sehingga saya merasa kalau aksi PRP hanya akan terus memelihara konflik di Papua,” tambahnya.

Nelson menyebutkan bahwa aksi yang dilakukan oleh PRP telah membungkam aspirasi orang Papua dan merusak harapan untuk kesejahteraan. Meskipun dirinya meyakini bahwa pemerintah tetap akan terus berusaha mewujudkan peningkatan taraf hidup bagi seluruh rakyat Papua.

“Mulut mama-mama Papua yang sedang mengharapkan kehidupan layak bagi anak-anaknya sedang dibungkam oleh klaim PRP yang menolak pemekaran, kalau dilihat dari sisi kemanusiaan maka ini adalah kejahatan. Kondisi di Papua yang benar-benar membutuhkan kesejahteraan justru dihambat sama orang-orang yang mungkin sudah merasakan hidup enak,” sambung Nelson.

Terkait rencana aksi yang akan digelar PRP pada tanggal 14 Juli 2022 mendatang, Nelson bahkan menuduh Jefry Wenda yang selalu mendaulat dirinya sebagai juru bicara PRP sebagai pihak yang paling bertanggung jawab jika kegaduhan dan konflik terus terjadi di tanah Papua.

“Tentu Jefry Wenda, karena lewat dia selalu kita dengar provokasi dan tuduhan-tuduhan tidak benar. Jangan hanya bisa bersembunyi, dia harus bisa bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan,” ujarnya.

0 komentar:

Posting Komentar